Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Alam demokrasi kini menyelimuti seluruh penjuru dunia yang semakin lama semakin menutupi dengan penuh kengerian yang berselimut topeng kesejahteraan dan kemanisan di dalamnya.  Padahal jika dibukakan selimut yang menutupnya akan tampaklah buruknya hidup yang akan didapatkan di dalamnya.

Orang – orang yang adapun tak sadar bahwa ia bukan hidup dalam dunia yang sebenarnya, yang sesuai dengan fitrah ia diciptakan.  Tetapi orang – orang yang ada di dalamnya semakin termabukkan dengan tipu daya kebahagiaan yang semu.  Ada pula yang sadar tetapi ia merasa sangat menikmati karena terpenuhinya apa yang ia inginkan.  Dan ia hidup dengan tersibukkan hanya pada kepentingannya saja, walaupun ia berpikir apa yang ia lakukan adalah untuk orang yang dibawahnya, padahal ia sebenarnya memperjuangkan haknya saja.  Ada pula di alam demokrasi yang ia sadar akan keburukan apa yang menyelimuti dunianya,  dan ia berusaha untuk memberitahukan orang disekitarnya akan keadaan yang menimpa mereka dan iapun mengajak mereka untuk keluar dari kondisi yang ada.

Alam demokrasi telah menciptakan banyak mafia – mafia yang semakin hari semakin menyengsarakan.  Mafia-mafia itu bergerak bermain di semua lini dalam menjalankan praktek-praktek kotornya.  Mereka bisa mengatur posisi atau penempatan jabatan tertentu.

Praktek kotor dilakukan oleh berbagai oknum.  Misalnya dari pihak kejaksaan, kepolisian atau di lembaga penegak hokum, pengusaha, pejabat yang punya kewenangan vital dan lain-lain.

Praktek kotor ala mafia itu seakan sulit untuk diberantas, namun harus ada keberanian semua pihak untuk melakukannya.   Dengan berbagai alasan para mafia berkeliaran tanpa tahu bahwa ia berada dalam pengawasan rakyat dan juga Sang Pencipta sekaligus Sang Pengatur.

Mafia – mafia yang ada telah mencitraburukkan dirinya sendiri bahkan tanpa disadari telah membuka topeng selimut ala demokrasi yang sarat dengan kepentingan para kapital penjajah.

Dalam demokrasi dianut system global kapitalisme bernuansa sekularisme, yang menjadi pemanisnya adalah demokrasi itu sendiri, juga sekarang ditambah dengan nama penghias yaitu HAM.  Lengkaplah sudah embel – embel negeri penuh dusta dan aniaya.

Lihat saja banyak orang penduduk pribumi yang mereka punya hak untuk hidup sejahtera, hidup berkecukupan, tetapi tak anyal dilihat mereka sengsara di dalam rumahnya sendiri, dan para raja kapitalisme dengan para mafia yang menjadi anteknya merampok kekayaan yang menjadi bekal hidup orang yang punya harta itu.

Sadarlah wahai kaum muslimin, Ada system yang telah diwasiatkan oleh orang yang kalian muliakan yaitu Baginda Rasulullah SAW, sistem itulah yang seharusnya dijalankan karena system itu berasal dari Sang pencipta dan Sang Pengatur yaitu Allah SWT (Khilafah  = Didalamnya diterapkan hukum – hukum Allah, dan berlaku untuk seluruh kaum muslimin di dunia)….

Dalam negara sekular-demokrasi kedaulatan di tangan rakyat yang terepresentasi di tangan wakil rakyat. Demikian juga dengan kekuasaan. Rakyat merupakan sumber kekuasaan. Akan tetapi pada prakteknya keadaulatan dan kekuasaan itu tidak benar-benar berada di tangan rakyat, namun di tangan para konglomerat pemilik modal raksasa terutama di bidang industri dan media massa.

Pilar pemerintahan itu jelas sangat berbeda dengan sistem khilafah. Di dalam sistem ini dibedakan antara kedaulatan dengan kekuasaan. Jika kedaulatan ada di tangan syara’ sehingga tidak boleh ada satu hukum atau undang-undang yang tidak bersumber dari Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya.  Sedangkan kekuasaan berada di tangan ummat. Artinya, umatlah yang berhak memilih dan mengangkat orang yang dikehendaki untuk menduduki jabatan khalifah. Karena kekuasaan di tangan umat, seorang khalifah hanya bisa memiliki kekuasaan dengan jalan bai’at.

Dalam mengadopsi undang-undang khalifah harus terikat dengan hukum-hukum syara’, sehingga haram baginya untuk mengadopsi suatu hukum yang tidak digali dengan cara yang benar, berdasarkan dalil-dalil syara’. Ia tidak boleh mengadopsi undang-undang yang bertentangan dengan syariat. Dengan demikian tampak jelas perbedaan pilar negara antara sistem sekular-demokrasi dengan sistem khilafah.

Dalam system yang bertolak belakang dasarnya ini sangatlah berbeda.  System ini tidaklah menjadi penjajah untuk tetap eksis, tetapi system ini ada untuk mensejahterakan seluruh umat manusia tanpa memandang suku, warna kulit, agama, bangsa dan lain – lain.  Tetapi system ini akan menjadikan orang – orang yang berada didalamnya terikat dengan aturan dari Sang Pencipta bukan terikat dengan hukum manusia yang lemah.

Oleh karena itu kita tidak akan menemukan mafia – mafia yang banyak berkeliaran dan dalam system yang penuh berkah.  Di dalamnya akan ada saling nasehat menasehati.  Karena setiap muslim pastinya akan menyelamatkan saudarnya dari siksa api neraka.

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه

Seorang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lain selamat dari lisan dan tangannya.  Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.  (HR Bukhari, Abu Daud, Nasai, Ahmad, Hakim, Ibn Hibban & Humaidi)

Orang – orang yang hidup didalamnya pun insyaallah akan ditempa menjadi berkepribadian islam, dan semakin kuatlah aqidah kaum muslimin karena islam benar – benar nyata dalam pengaturan di segala lini kehidupan.  Terjagalah aqidah kaum muslim, harta, jiwa, dan martabat kaum muslimin begitu pula agama yang bukan islam pun akan merasakan betapa adilnya hukum islam dan semakin tampaklah keindahan islam dalam mengatur urusan duni, dan semakin banyaklah orang yang tersadarkan akan kemuliaan dan kebenaran islam dimuka bumi.

Tak kenal maka tak sayang, itulah gambaran orang yang kini hidup di alam demokrasi.  Khususnya kaum muslimin sendiri, banyak kaum muslimin yang tidak terlalu kenal. Apalagi sudah sejak lama musuh-musuh Islam berhasil menghapuskan gambaran Khilafah dalam benak mereka.

Allah SWT berfirman:

إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك الدين القيم  ولكن أكثر الناس لايعلمون

Menetapkan hukum hanya hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS Yusuf: 40).

Oleh karena itu, mari bersama kita belajar dari sejarah peradaban Islam yang di dalamnya diterapkannya hukum Islam.  Dan semoga kita menjadi pejuang Syariah dan Khilafah itu.  InsyaAllah dengan janji Allah dan pertolongan Allah yang kian dekat, Kita akan meninggalkan alam demokrasi ini menuju alam yang terang benderang dalam cahaya islam yang masuk ke segenap pintu.  Amin Ya Robbal Alamin….

Wallah a’lam bi al-shawab

 Oleh: Syifa & Riyasha Shafiyyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: