Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Oleh Muhaimin Iqbal

Liburan akhir tahun ini saya ada urusan di Jogjakarta, jadi saya sempatkan bernostalgia menikmati kota ini karena tiga tahun lebih masa remaja saya sekolah di sini. Saya sempatkan jalan-jalan di alun-alun utara yang lagi ada sekatenan, luar biasa hiruk pikuknya. Ada beberapa ‘roller coaster’ mini yang nampaknya laris diantri pengunjung, tidak sehebat yang di Dufan-Jakarta tetapi cukup membuat teriakan-teriakan histeris penumpang ‘roller coaster’ mini ini membahana di alun-alun utara Jogja. Dalam hati saya bertanya, kok orang mau ya mengantri dan membayar untuk dibuat ‘stress’ sport jantung memacu adrenalin – padahal untuk stress yang gratis yang bisa datang setiap saat dalam ke-hidupan sehari-hari kita justru lebih sering tidak bisa menikmatinya ?

Saya menemukan alasannya di berbagi sumber, ternyata ada setidaknya tiga perbedaan yang membuat kita bisa menikmati ‘roller coaster’ mainan yang berbayar tetapi sangat jarang bisa menikmati ‘roller coaster’ yang sesungguhnya – yang gratisan, yaitu ‘roller coaster’ kehidupan.

Pertama adalah dalam roller coaster mainan, stress tersebut kita antisipasi dan kita tahu bahwa ini hanya untuk sebentar. Sehebat apapun naik turunnya roller coaster, kita tahu bahwa ujung perjalanan tidak akan lama lagi. ‘Roller coaster’ kehidupan sering datang tanpa diantisipasi dahulu, ujung perjalanannya-pun tidak diketahui.

Kedua dalam roller coaster mainan kita percaya bahwa pengelola telah memasang alat dan system keamanan yang diandalkan – meskipun ada juga yang gagal – sehingga roller coaster tersebut dipersepsikan aman untuk dinaiki. Dalam ‘roller coaster’ kehidupan, kita sering ragu dan tidak tahu akan adanya alat dan system pengamannya.

Ketiga adalah perbedaan dalam sikap. Ketika kita naik roller coaster mainan, mindset kita bilang bahwa kita sedang bersenang-senang – maka naik turunnya roller coaster yang membuat penumpangnya menjerit histeris-pun itu bagian dari senang-senang tersebut. ‘Roller coaster’ kehidupan dipersepsikan secara berbeda, lebih sering dipersepsikan sebagai musibah ketika lagi dibawah dan sebagai kenikmatan bila lagi diatas.

Bisakah kita menikmati ‘roller coaster’ kehidupan sebagaimana kita menikmati roller coastermainan ? Kemungkinan itu ada bila kita bisa mengatasi tiga hal yang berbeda tersebut diatas.

Pertama adalah kita persiapkan diri kita untuk melalui up and down-nya kehidupan, kita tahu bahwa itu semua sifatnya sementara – kita siapkan saja untuk akhir yang menyenangkan dengan ketaatan, dengan amal terbaik dan dengan do’a yang sangat populer yaitu untuk diberi akhir yang khusnul khotimah !.

Kedua adalah kita perlu yakini bahwa Yang Maha Mengelola ‘roller coaster’ kehidupan ini adalah juga Yang Maha Tahu, Maha Perkasa , Yang Maha Adil, Yang ditanganNya-lah segala kebaikan , maka kita serahkan saja up and down-nya kehidupan kita ketanganNya semata untuk diberi akhir yang terbaik menurut Dia Yang Maha Tahu – bukan yang terbaik menurut kita.

Ketiga adalah persepsi tentang kenikmatan, musibah-pun bisa menjadi nikmat bila kita bisa sabar menghadapinya, dan nikmat akan tetap menjadi nikmat dan bahkan bertambah bila kita mensyukurinya – yaitu bila kita bisa menaiki ‘roller coaster ‘ kehidupan ini seperti menaiki ‘dua kuda tunggangan Umar’ – yang mana saja yang sedang kita naiki, tidak masalah bagi kita !. InsyaAllah.

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: