Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Sengaja dilanggengkan untuk merusak moral umat Islam.

Februari identik dengan warna pink, pertanda hari kasih sayang tanggal 14. Memang, belakangan ini perayaan Valentine’s Day (V’Day) makin marak saja. Mulai anak-anak hingga orang tua, sibuk mengekspresikan cintanya pada pasangan. Meski mayoritas penduduk negeri ini Muslim dan banyak yang tidak merayakannya, semarak gegap-gempita di berbagai media, televisi, mall, hotel dan tempat hiburan membuat hari kasih sayang seolah momentum wajib yang harus dikenang. Ada apa ?

Sejarah Maksiat
V’Day identik dengan maksiat. Ya, perayaan V’Day kerap melibatkan sejoli beda jenis kelamin yang saling mengekspresikan cinta. Entah sekadar memberi coklat, boneka pink, romantic dinner, dansa-dansi, hingga berujung pada hubungan seksual alias perzinaan. Na’uzubullahi min dalik.
Perayaan di hotel-hotel, kafe atau diskotek pun sama. Selalu mengumbar kemaksiatan. Ada ikhtilat alias campur baur laki-laki dan perempuan, baik dalam acara makan malam, dansa-dansi, games, life music, dan seterusnya. Tak hanya pasangan kekasih, kadang acara ini banyak membidik pasangan suami-istri yang bergaya hidup metropolis.

Model perayaan seperti itu, tak lepas dari sejarah asal mula V’Day eksis. Menurut berbagai literatur, ada dua versi tentang kemunculan V’Day. Pertama, dulu ada pendeta bernama Valentino yang melanggar aturan Raja Romawi, yakni menikahkan pasangan usia remaja.

Padahal waktu itu remaja tidak boleh menikah karena dinilai lebih kuat jadi tentara jika belum menikah. Karena melanggar, Valentino dihukum mati. Sebelum mati dia menulis surat cinta untuk kekasihnya dengan kata-kata “Be My Valentine”.

Versi kedua, dulu di zaman Romawi kuno ada tradisi upacara Lupercalia di mana cewek menulis nama, dimasukkan di pundi-pundi, lalu cowok mengambil satu nama. Nah, cowok itu lantas berpasangan dengan cewek yang namanya tertera di situ untuk pesta semalam suntuk.

Demikianlah, V’Day bukan berasal dari budaya Islam. Bahkan, budaya jahiliyah di Romawi kuno, yang jauh dari nilai-nilai islami. Jadi, sangat bodoh bila saat ini masyarakat tersihir dengan mengikuti tradisi jahiliyah tersebut.

Merusak Moral

Lebih dari itu, V’Day sengaja dilanggengkan untuk merusak moral umat Islam. Ya, kaum kafir tak pernah berhenti membuat makar untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya. Terutama Yahudi, sengaja menciptakan berbagai permainan dan hiburan untuk melenakan umat. Salah satunya V’Day yang menjerumuskan umat pada tindak maksiat, sekaligus menyingkirkan syariat Islam.

Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana jika memperingati V’Day dengan cara yang baik tanpa maksiat? Seperti anak memberikan coklat atau bunga tanda kasih sayang kepada orang tuanya, atau pada gurunya. Jawabnya, tetap saja, dengan memperingati berarti kita setuju bahwa tanggal 14 Februari adalah Hari Kasih Sayang. Dengan begitu, artinya kita semakin mengokohkan keberadaan V’Day yang bukan merupakan hari besar agama Islam.

Ingat, V’Day identik dengan orang kafir sehingga dengan cara apapun tidak akan kompatibel dengan Islam. Dalam hal ini kita ingat firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al Baqarah, 2: 256)

Kapitalisasi Cinta

Perlu dipahami, kemasan hari kasih sayang, sejatinya tak lebih ajang bisnis para pemodal. Masyarakat dibodohi agar tergiur membeli hal-hal yang terkait V’Day dan simbol-simbol cinta. Jadi, ujung-ujungnya adalah duit. Pelaku bisnis memanfaatkan V’Day untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengatasnamakan hari kasih sayang.

Melalui momentum ini, jualan berbagai produk cinta laku keras. Misalnya coklat dan segala pernak-pernik yang berbau pink atau berbentuk daun waru. Demikian pula pesta-pesta bertema cinta di hotel, kafe atau restoran, digeber supaya laku. Ujungnya, duit mengalir ke pundi-pundi mereka tanpa peduli dampak negatif yang ditimbulkannya.

Jadi, memang ada kesengajaan untuk melanggengkan V’Day sebagai momentum jualan produk semata-mata. Sebab semboyan para pemilik kapital, segalanya harus jadi duit. Kaum kapital menjadikan V’Day sebagai isu penting untuk mendongkrak bisnisnya. Tak peduli bisnis maksiat. Disihirlah remaja, bahkan orang tua yang merasa modern dan trendy, agar merayakan V’Day demi predikat gaul, modern dan trendy.

Haram Tasyabuh

Menilik sejarah dan bentuk perayaan V’Day, jelaslah bahwa tradisi jahil itu haram dilakukan umat Muslim. Baik sekadar iseng, ikut-ikutan atau sengaja merayakannya. Juga, bagi pihak yang ikut terlibat dalam bisnis V’Day yang secara tidak langsung ikut melestarikan V’Day.

Demikian pula kaum Muslimin, dengan alasan apapun, sebaiknya tidak membeli produk-produk berbau V’Day agar tidak terjebak dalam dosa. Sebab, jika melakukannya maka terkategori tasyabuh, alias mengikuti kebiasaan orang kafir.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu” (HR. Abu Daud) . Sesungguhnya V’Day adalah tradisi orang kafir, maka haram untuk mengambil, meyakini dan merayakannya. Untuk itu, kaum muslim harus segera kembali pada ajaran Islam.

Ingatlah, “Sesungguhnya kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sedikit demi sedikit sampai seandainya mereka masuk ke lubang biawak kalian juga akan mengikuti mereka” (HR Bukhari dan Muslim). V’Day maksiat![] kholda naajiyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: