Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Dibalik Hari Perayaan Cinta

Tanggal 14 Februari selalu di identikan dengan hari spesial bagi orang yang tengah jatuh cinta, atau kasmaran. Hari ini biasa disebut sebagai hari kasih sayang, yang terkenal di kalangan anak muda di sebut dengan “Valentine Day”, yaitu hari dimana orang secara terbuka (baca : bebas) mengungkapkan rasa sayang dan cinta lewat berbagai cara, baik itu rayuan gombal atau kata mutiara cinta, ditambah lagi hadiah coklat, bunga, boneka dan sebagainya.

Sebenarnya,valentine day itu berasal dari jaman Yunano Kuno. Dan disana, bulan februari memang biasa diidentikkan dengan hari penghormatan terhadap pernikahan dewa mereka, yaitu Dewa Zeus dengan Hera. Itulah mengapa pada pertengahan Februari selalu dilakukan pesta pora memeriahkan hari kasih sayang para dewa mereka.

Kata “Valentine Day” itu sendiri baru tersebutkan secara tertulis di abad pertengahan (sekitar abad 14) lewat tulisan sastra Geoffrey Chaucer di abad ke-14 yang berjudul “Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung)” :

“For this was sent on Seynt Valentyne’s day
When every foul cometh there to choose his mate”

Nah, hal yang tidak ketinggalan di “hari perayaan cinta” adalah Cupid. Cupid atau dalam bahasa latinnya di sebut Amor, atau Eros, dan dalam bahasa Inggris juga biasa disebut sebagai The Desire (yang memiliki arti sebagai ‘hasrat’, ‘nafsu’, atau ‘syahwat’). Cupid biasa digambarkan sebagai sosok bayi montok nan rupawan dan bersayap dengan panah di tangannya. Namun ada pula penggambaran Cupid sebagai seorang lelaki rupawan yang bersayap. Hanya saja,dalam bentuk yang masih bayi ato dewasa sekalipun, si Cupid ini tetap aja digambarkan tanpa memakai baju alias bugil. Bisa jadi, inilah pesan asli dari yang mereka sebut sebut sebagai “Cinta” yaitu sesungguhnya adalah “Hasrat atau Nafsu syahwat”.

Sosok Cupid yang juga punya sayap dan busur yang di taruh di atas atau di bawah tulisan: “Be My Valentine’s…” . Dalam kepercayaan pagan, Cupid merupakan anak dari Nimrod ‘The Hunter’ alias Dewa Matahari (Raja Namrudz) dengan Dewi Aphrodite, Sang Dewi Kecantikan yang popular dengan sebutan Dewi Venus. Bahkan dalam mitologi  di kisahkan kalau ibu kandungnya pun tertarik secara seksual dengan cupid dan melakukan perzinaan dengan anaknya sendiri!. Naudzubillah. Dan ternyata, hal seperti itu dianggap sesuatu yang lumrah di masyarakat pagan Roma.

Cupid atau Eros ini dianggap sebagai Dewa atau Tuhan Cinta, karena raganya yang sangat rupawan, maka dari itu tidaklah heran jika dalam mitologi Yunani dan Roma Kuno, kesempurnaan ragawi dan juga syahwat  memang sangat diagungkan. Para dewa dewi yang mereka sembah, simbolnya pastilah dalam bentuk sosok manusia, laki-laki dan perempuan, yang dianggap sempurna tubuh dan juga kecantikan maupun ketampanannya. Jika seorang dewi maka mereka disimbolisasikan dalam ribuan patung dan juga lukisan, sebagai seorang perempuan muda yang cantik, memiliki tubuh yang menggoda, dan mempunyai hasrat yang bergelora. Ini sama dengan penggambaran mereka tentang para dewanya, yang digambarkan sebagai seorang laki-laki perkasa, rupawan, dan juga sama-sama menyimpan hasrat yang dahsyat. Naudzubillah…

Dan begitulah sekilas tentang Valentine Day dan sekutu- sekutunya, yang seharusnya kita ketahui. Sebenarnya, Hari Valentine tidak akan semeriah ini jika tidak ada tangan dingin dari para pebisnis. Dengan kata lain, banyak pebisnis yang seharusnya menjadi penanggung jawab atas kelestarian budaya ini. Seperti yang kita ketahui bersama, para pebisnis selalu mencari celah untuk mendapatkan keuntungan. Nah, Celah ini  termasuk juga perayaan-perayaan keagamaan, yang oleh mereka dijadikan juga sebagai ‘perayaan bisnis’. Uang yang jadi tujuan akhir mereka mengalir deras lewat pembelian kartu ucapan, bahkan di dunia Barat sendiri, bisnis kartu ucapan pada hari Valentine mencapai rekor tertinggi setelah Hari Natal. Kebanyakan yang membeli kartu ucapan Valentine adalah perempuan yang mencapai prosentase lebih dari 80%. Ini belum termasuk penjualan bunga, media massa, coklat, dan sebagainya. Lalu, masihkah ada kepedulian mereka bahwa perayaan ini juga adalah yang termasuk yang merusak moral dan kemanusiaan ?

(Syahidah/voa-islam.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: