Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

PROGRAM “SATU HARI TANPA NASI” DICANANGKAN PEMKOT DEPOK

Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, Jawa Barat, memberlakukan kebijakan sehari tanpa nasi atau one day no rice, yaitu semua pengelola kantin di lingkungan balaikota Depok dilarang berjualan nasi atau makanan berbahan dasar beras setiap hari Selasa. Para pengelola kantin di balaikota Depok diminta setiap hari Selasa hanya menjual makanan dari bahan atau bahan dasar dari kentang, singkong, ubi, dan lainnya.

Selain itu, para pengelola kantin juga dilarang menggunakan lift saat mengantarkan makanan. Mereka diharuskan membawa makanan dalam wadah tertutup, dan membersihkan kalau ada ceceran atau tumpahan makanan. Pemkot Depok akan memberlakukan kebijakan itu secara bertahap. Nantinya, peraturan tersebut akan berlaku hingga ke seluruh Depok. (Kompas)

Untuk kesekian kalinya dalam masa pemerintahan SBY-Budiono, kampanye menyesatkan dibuat untuk menutupi kegagalan pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. Semenjak 14 oktober 2010, pemerintah secara resmi telah meluncurkan kampanye “sehari tanpa beras” (one day no rice), yang dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi beras dan memperkuat ketahanan pangan.

Padahal, tidak jauh dari bulan oktober, yaitu tanggal 26 Agustus 2010, Kepala Pusat Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan, Arman Moenek, menyatakan bahwa produksi beras Indonesia akan mengalami surplus 5,6 juta ton, sehingga tidak perlu impor beras (Sumber: Vivanews.com).

Kemudian, pada tanggal 29 November 2010, Menteri Pertanian Suswono menyatakan bahwa produksi padi nasional bisa mencapai prediksi BPS, yaitu sebesar 2.64 persen dari target 3,20 persen atau sebanyak 66 juta ton beras. “Dengan bertambahnya lahan pertanian, stok Pangan Nasional tidak menuai kendala dan diprediksi mengalami surplus 4 juta ton setara beras,” demikian disampaikan Sang Menteri.

Beberapa bulan terakhir ini, harga besar di pasar dalam negeri memang mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Pemerintah menyimpulkan bahwa penyebab kenaikan harga ini adalah keadaan cuaca yang kurang menguntungkan, sehingga mempengaruhi produksi padi. Oleh karena itu, dengan maksud menghemat stok pangan nasional, maka pemerintah pun menggencarkan kampanye “One Days No Rice” dalam setahun ini. Tidak tanggung-tanggung, jika kampanye ini sukses dilakukan, maka pemerintah bermimpi bisa menghemat stok beras sebesar 1,1 juta ton.

Nasi merupakan makanan pokok bagi Rakyat Indonesia. Orang baru dianggap sudah selesai makan jika sudah memakan nasi. Lebih dari itu, nasi sudah menjadi bagian relasi sosial-produksi masyarakat Indonesia, setidaknya sebagai peninggalan masyarakat agraris.

Apa yang perlu diketahui di balik kebijakan ini? pertama, kampanye ini adalah sangat membodohi dan menyesatkan. Adalah tidak terbantahkan, dan tentu ini tidak bisa ditutup-tutupi, bahwa pemerintah tidak bisa mewujudkan ketahanan pangan, juga tidak punya komitmen untuk membangun dan mengembangkan sektor pertanian.

Meskipun ada dampak perubahan cuaca, tetapi jika pemerintah membekali kaum tani dengan modal, teknologi, dan jaminan pasar, maka hal itu tidak akan membuat petani menelan kerugian, dan sebaliknya, akan memicu produktifitas pertanian.

Apa yang dilakukan SBY justru sebaliknya, yaitu mencabut subsidi pertanian, menutup akses modal bagi petani, dan membiarkan hasil produksi petani tergilas oleh beras impor dari berbagai negara.

Kedua, harga beras di pasar internasional pun sedang melonjak sangat tinggi akibat kegagalan panen di sejumlah negara, yakni berkisar 500 USD per-ton. Krisis pangan ini bukan hanya karena persoalan bencana alam, tetapi juga karena krisis ekologi dan permainan perusahaan agrobisnis besar.

Dari kenyataan di pasar internasional itu, saya mengendus maksud dari pernyataan Menteri Pertanian yang berkata, “mengurangi konsumsi beras dapat meningkatkan ketahanan pangan, dan setelah itu, dapat mendorong ekspor beras ketika sudah surplus.” Maksud pernyataan ini dapat ditafsirkan, “bahwa pemerintah Indonesia meminta rakyat Indonesia untuk mengurangi konsumsi beras agar supaya beras itu dapat diekspor ke pasar internasional.”

Kita sedang berada dalam dunia yang sangat brutal, dimana jutaan kaum tani terancam musnah karena harga jual pangan mereka terlalu murah, sementara segelintir orang berlimpah kekayaan karena menikmati untung dari harga pangan yang sangat tinggi di pasar internasional.

Itulah yang terjadi di negeri kita. Karena pasar beras di dalam negeri sudah terkoneksi dengan pasar internasional, maka harga beras setinggi apapun tidak ada hubungannya dengan peningkatan penghasilan petani.

Padahal, ketika Indonesia baru saja merdeka dan saat itu sedang berada dalam kepungan kolonial Belanda, bangsa Indonesia justru mengirimkan bantuan beras sebanyak 500 ribu ton kepada rakyat India. Jika dijaman kita sedang berevolusi saja masih bisa mengirim beras ke negara sekawan, kenapa di jaman sekarang ini kita tidak bisa memproduksi beras dalam jumlah lebih banyak?

Ini salahnya pemerintah kita sendiri ketika masih terus mempertahankan sistem Demokrasi-Kapiltalis ini. Presiden sangat suka menjadi budak negeri-negeri imperialis, dan sebagai konsekuensinya, harus menjalankan kebijakan neoliberal di Indonesia. Neoliberalisme ini sangat menghancurkan sektor pertanian, yakni melalui penghapusan subsidi pertanian, liberalisasi impor beras, perampasan tanah rakyat, dan lain sebagainya.

Penyebab krisis pangan

Ada 3 kemungkinan penyebab krisis pangan. Pertama: distribusi pangan yang buruk. Ini terjadi ketika produksi pangan di suatu negara sebenarnya cukup secara kolektif, atau surplus. Namun, karena sistem distribusinya buruk, beberapa orang tidak bisa mendapatkannya. Distribusi yang buruk ini terjadi ketika harga dijadikan sebagai unsur tunggal pengendali distribusi. Artinya, orang dipaksa mendapatkan bahan makanan dengan cara membeli; tidak ada mekanisme lain kecuali dengan cara membeli. Kalau dia tidak mampu membeli berarti dia tidak berhak mendapatkan bahan pangan tersebut.

Kedua: produksi pangan yang minus. Artinya, jumlah produksi pangan lebih kecil daripada jumlah kebutuhan untuk seluruh rakyat. Ini bisa terjadi karena adanya musibah seperti kekeringan, banjir, serangan hama, dan lain-lain, yang menyebabkan terjadinya kegagalan panen. Bisa juga terjadi karena kondisi pertanian di suatu negara memang lemah sehingga tingkat produksi pertaniannya rendah. Ketiga: karena kombinasi dari dua kemungkinan di atas, yaitu distribusinya buruk dan produksinya juga minus.

Solusi Islam mengatasi krisis pangan

Pertama: negara harus memberikan supor penuh dalam pembangunan pertanian; misalnya dengan memberikan modal, lahan, sarana produksi pertanian, dll kepada petani.

Kedua: dilakukan kebijakan ekstensifikasi; dibuka lahan-lahan baru untuk pertanian. Lahan-lahan yang tidak produktif dan menganggur selama 3 tahun diambil oleh negara dan diberikan kepada mereka yang siap menggarap. Lahan pertanian yang subur harus tetap dipertahankan sebagai lahan pertanian, tidak dikonversi untuk keperluan lain.

Ketiga: dilakukan intensifikasi dengan penemuan bibit unggul, sistem budidaya, penyediaan pupuk, dan obat pembasmi hama yang efektif.

Keempat: dilakukan restrukturisasi pertanian. Misalnya, petani-petani gurem yang tidak efisien dengan lahan hanya 0,2-0,3ha harus ditingkatkan skala usahanya dengan lahan yang lebih luas.

Kelima: dilakukan penanganan yang baik pada sektor pemasaran produk pertanian. Misalnya, rantai pemasaran yang merugikan petani harus dihapus; disiapkan infrastruktur pendukung yang memadai seperti jalan, alat transportasi, pasar, dll; juga dibangun industri-industri yang dapat menyerap hasil pertanian.

Jika kita mampu mewujudkan swasembada dengan pengelolaan sektor pertanian secara baik, maka “gonjang-ganjing” pangan dunia dengan berbagai faktor penyebabnya niscaya tidak akan berpengaruh negatif dan tidak perlu menggalakan kampaye sesat ’One Day No Rice’.

Cengkeraman asing ini harus disikapi dengan tegas berdasarkan kebijakan pertanian dalam Islam di atas. Kebijakan pertanian yang pro-kapitalis itu wajib dihentikan secara total, untuk selanjutnya diganti dengan kebijakan pertanian islami berdasarkan syariah Islam semata.

Wallahu’alam bishawab

—Rindyanti Septiana—

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: