Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Satu Kisah Banyak Hikmah

Oleh : Agus Trisa

Ada sebuah kisah yang sangat terkenal yang dituturkan oleh Abu Hurairah ra. Kisah ini bermula ketika ada seorang Muhajirin datang kepada Rasulullah saw., lalu ia berkata, “Ya Rasulullah. Sungguh, saya sangat lapar sekali.” Mendengar hal tersebut, Rasulullah segera membawa orang itu kepada salah seorang istri beliau agar ia memberinya makan. Tetapi istri beliau berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan haq. Kita tidak memilki apapun kecuali air.”

Lalu Rasulullah saw. membawa orang itu kepada istrinya yang lain, dan ternyata jawabannya sama. Beliau kemudian membawa orang itu kepada istri-istri beliau yang lainnya lagi. Namun jawaban mereka sama saja. Akhirnya beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Siapa saja yang sanggup menjamu tamu ini pada malam ini, Allah pasti merahmatinya.” Seseorang dari kalangan Anshar lalu berdiri seraya berkata, “Saya ya Rasulullah.”

Orang Anshar itu kemudian membawa tamunya ke rumahnya. Kemudian dia berkata kepada istriya, “Kita kedatangan tamu malam ini. Apakah engkau punya makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak. Kita tidak memiliki makanan, kecuali sedikit. Itu pun untuk anak-anak kita.” Lelaki Anshar itu kemudian berkata kepada istrinya, “Kalau begitu, tidurkanlah mereka. Hidangkanlah makanan itu untuk tamu kita. Jika ia sudah masuk rumah, matikan lampu, sementara aku akan berpura-pura sedang makan.” Dalam kegelapan, tamu itu masuk dan dipersilahkan makan makanan yang tidak seberapa sedangkan tuan rumahnya berpura-pura makan.

Keesokan harinya, Rasulullah saw. bersabda kepada suami istri itu, “Sungguh, Allah sangat mengagumi kalian berdua karena perilaku kalian tadi malam dalam menjamu tamu kalian.”

Kisah di atas memberikan kita beberapa ibrah (pelajaran) yang sangat penting.

Pertama,

kita bisa melihat bahwa sesungguhnya keluarga Rasulullah bukanlah sebuah keluarga yang memiliki tingkat perekonomian menengah ke atas. Dalam banyak riwayat, seringkali kita mendapati Rasulullah ‘shaum’ karena seringnya beliau tidak menemukan sesuatu untuk dimakan. Tetapi yang sangat menakjubkan, di tengah kesederhanaannya itu Rasulullah tetap memperhatikan orang lain. Kesederhanaan yang dimiliki beliau tidak menghalanginya untuk berbuat baik terhadap kaum muslim. Ini menjadi suatu keteladanan yang sangat baik bagi setiap muslim bahwa untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, tidak memerlukan banyak materi. Bahkan Rasulullah telah memberikan rasa perhatian terhadap tamunya, walaupun pada saat itu beliau dan keluarganya tidak memiliki makanan. Justru hal ini membuktikan bagi kita, bahwa perbuatan baik (beramal salih) sama sekali tidak terkait dan tidak berhubungan sama sekali dengan materi.

Kedua,

sikap yang ditunjukkan sahabat Anshar dalam menolong orang Muhajirin itu adalah sikap mengutamakan orang lain. Sedikit makanan yang akan diperuntukkan bagi anak-anaknya, diberikannya kepada orang Muhajirin tersebut tanpa rasa ragu. Pengorbanannya kepada saudara seiman sangat tinggi sehingga menumbuhkan kekuatan di dalam diri. Kerelaan dan kemauan untuk berkorban terhadap saudara seiman itulah dapat menjadi tali penguat ukhuwah antara satu mukmin dengan mukmin yang lain. Sikap rela berkorban inilah yang harus ditumbuhkembangkan di antara sesama muslim, sesama pejuang Islam. Ketika kita menyaksikan saudara kita sedang kesusahan, hendaknya kita rela berkorban untuk meringankan bebannya, walaupun saat itu kita juga dalam kondisi yang tidak lapang. Sungguh, pengorbanan tidak memandang lapang sempitnya seseorang.

Ketiga,

pelajaran bagi sebuah keluarga. Kita tahu bahwa sahabat Anshar itu adalah orang yang sudah berkeluarga, memiliki istri dan anak-anak. Mereka hidup dalam kondisi yang cukup sulit. Tetapi, dari sana kita bisa melihat bahwa kerelaan dan pengorbanan yang ditunjukkan seorang istri atas perintah suaminya, juga sangat besar. Kita tentu sudah bisa melihat bersama, bahwa sahabat Anshar itu benar-benar mendidik keluarganya untuk taat pada Islam dalam segala kondisinya, suka atau tidak suka, sempit atau lapang. Sahabat Anshar itu benar-benar bisa mendidik istrinya menjadi seorang muslimah berkepribadian Islam. Pola pikirnya Islami, tidak berpikir tentang materi. Demikian pula pola sikapnya, benar-benar menunjukkan keikhlasan. Sungguh, sahabat Anshar itu benar-benar telah mendidik keluarganya menjadi keluarga yang dilingkupi kepribadian yang Islam. Dan sungguh beruntunglah istri sahabat Anshar itu. Dia benar-benar seorang wanita muslimah yang berakhlak Islami.

Keempat,

bersegera dalam melaksanakan perintah Allah. Kisah di atas juga menunjukkan kepada kita tentang ketaatan seorang muslim terhadap syariat Islam. Ketaatan seorang muslim benar-benar terpancar dari pola sikap sahabat Anshar tersebut. Dia melaksanakan seruan (perintah) Rasulullah tanpa rasa ragu sedikit pun, walaupun saat itu dia berada dalam kondisi yang sempit. Tetapi sungguh, jiwanya benar-benar lapang. Ketika Rasulullah melaksanakan satu perintah, kemudian dia bersama istrinya langsung menyambut seruan itu tanpa keraguan sedikit pun. Subhanallah…

Demikianlah,sebuah kisah yang sangat banyak pelajaran terkandung di dalamnya. Dengan menghayati kisah di atas, niscaya sendi-sendi keimanan akan benar-benar tegak di dalam diri setiap muslim. Tidak perlu harta yang banyak untuk bisa menjadi baik. Tetapi keimanan itulah modal utama seseorang untuk bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

http://www.facebook.com/MuslimahRinduKhilafah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: