Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Apakah DR Muhammad Mursy Akan Mencontoh Rasulullah saw?

Oleh: Adi Victoria

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mesir menyatakan bahwa Muhammad Mursi, dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) terpilih sebagai presiden baru negara itu. Dia dinyatakan menang dengan perolehan suara 51,7 persen atau 13,4 juta suara.

Sementara penantang Mursi, Ahmed Shafiq, hanya kebagian 12,3 juta suara. Menurut KPU Mesir, ada sejumlah 800.000 surat suara yang dinyatakan tidak sah. Bahkan, kedua kubu sama-sama mencantumkan keberatan mereka ke KPU terkait proses pemilihan umum itu.

Pengumuman yang dibacakan oleh Ketua KPU Mesir, Farouq Sultan, hari Minggu (24/6), di Kairo, segera disambut gembira oleh para pendukung Mursi. Puji syukur dan sorak-sorai membahana di Lapangan Tahrir, Kairo. Kondisi Mesir pun terkendali pasca-diumumkannya Mursi sebagai Presiden Mesir, menggantikan Hosni Mubarak.

Mursi adalah tokoh IM pertama yang menduduki jabatan tertinggi di negara itu. Dia dilahirkan di kawasan Delta Sungai Nil, tepatnya di Provinsi Sharqiya. Dia adalah sarjana teknik mesir dari Universitas Kairo tahun 1975. Dia meraih gelar doktor dari University of Souhtern California, Amerika Serikat. Di perguruan tinggi itu, pada tahun 1985, dia sempat menjabat sebagai asisten guru besar.

Banyak harapan dari masyarakat dunia international khususnya di beberapa negeri Islam bahwa dengan terpilihnya Mursi sebagai pemimpin baru Mesir, maka perjanjian camp David akan di hapuskan. Bahkan di dalam negeri pun, rakyat Mesir menuntut agar perjanjian itu di hapuskan.

“Mayoritas warga Mesir menentang segala bentuk hubungan dengan Israel dan mereka berpikir bahwa Israel adalah rezim penjajah,” kata Kamel Wazni, analis politik kepada Press TV.

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Muhammad Mursi, kandidat dari Ikhwanul Muslimin keluar sebagai pemenang dalam pilpres putaran kedua di negara itu.

Pakar politik tersebut menambahkan, warga Mesir ingin Palestina memiliki hak legal mereka untuk memiliki tanahnya dan saya pikir Ikhwanul Muslimin, jika ingin mendapat legitimasi dari bangsa Mesir, mereka harus menghormati tuntutan rakyat negara ini.

Tekanan opini publik terhadap presiden baru Mesir untuk mempertimbangkan kembali kesepakatan damai dengan Israel dan pembatalan perjanjian Camp David terus meningkat.

Lebih Lanjut Wazni mengatakan, “Saya tidak tahu berapa lama mereka akan enghormati perjanjian Camp David. Jika mereka terus bertahan dengan perjanjian itu,maka mereka akan kehilangan kredibilitasnya.”

Dia dulu pernah menjadi anggota kelompok anti-Israel, Komisi Menentang Zionisme. Tetapi, dia banyak mengabdi pada IM. Melalui IM inilah, dia kemudian dicalonkan untuk ikut pada pemilihan anggota parlemen tahun 2000.

Bahkan pihak Israel pun merasa khawatir bahwa kemenangan Moursy tersebut akan menjadi momok bagi mereka, yakni dengan dibatalkannya perjanjian camp David tersebut.

Memang sejauh ini tidak terdapat pernyataan resmi dari Ikhwanul Muslimin tentang pembatalan perjanjian camp David. Namun Mohammad Mursi menyatakan akan menghormati perjanjian Camp David walaupun terjadi kekhwatiran dari pihak Israel tentang pembatalan perjanjian tersebut oleh Ikhwanul Muslimin. Uzi Dayan Mantan Wakil Kepala Staf Gabungan Militer Rezim Zionis Israel menyatakan kekhawatirannya terkait transformasi di Mesir terutama tentang kelanjutan perjanjian Camp David.

Kekhawatiran Israel cukup beralasan terhadap pembatalan perjanjian camp David, Israel negara yang sedang di kepung dan di repotkan oleh berbagai kekuatan-Hamas, Hizbullah, Suriah dan Iran- dengan terjadinya pembatalan perjanjian Camp David Israel akan semakin memperburuk situasi keamanan dalam negri Israel

Dalam sebuah kesempatan, Mursi berkata :”Kami membawa pesan damai kepada dunia. Kami menegaskan komitmen Mesir pada traktat dan kesepakatan Internasional. Kami juga mengingatkan bahwa, Mesir adalah pendukung Palestina dan Rakyat Suriah. Tetapi kami tidak ingin mengirimkan revolusi ke Suriah atau bahkan mengintervensi persoalan dalam negeri mereka”.

Ini berarti bahwa Negara Mesir yang di pimpin oleh DR Muhammad Mursi tetap akan mempertahankan perjanjian tersebut.

Pasca kemenangan Ikhwanul Muslimin di pemilihan umum legislative timbul berbagai macam ketakutan dan kegelisahan dari berbagai pihak. Ketakutan dan kegelisahan terkait berbagai anggapan bahwa Negara Mesir akan berubah haluan menjadi negara radikal, anti pluralisme, pendukung teroris versi Amerika-sekutu dan Israel- dan membatalkan perjanjian Camp David jika kekuasaan berada dalam cengkraman Ikhwanul Muslimin. Jauh sebelumnya atau sebelum mencapai kemenangan dalam Pemilu Legislatif, terdapat beberapa media barat menuduh Ikhwanul Muslimin memiliki misi menghalalkan penggunaan kekerasaan dalam mencapai tujuan. Bahkan hingga menuduh Ikhwanul muslimin memilki korelasi dengan gerakan teroris. Namun kenyataannya tidak terdapat satu negara pun yang menempatkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris hal ini berbeda dengan Al Qaeda, Hamas dan Hizbullah yang ditempatkan oleh beberapa negara kedalam kategori organisasi teroris.

Ikhwanul Muslimin mencoba menetralisir tudingan-tudingan miring mengenai eksistensi mereka dengan mengadakan kunjungan resmi ke Gedung Putih. Namun sebelumnya menurut Marina Ottaway seorang pakar Timur Tengah menilai dahulu Amerika membuat sebuah kebijakan untuk tidak berhubungan dengan pihak Ikhwanul Muslimin karena larangan pemerintah Mesir, pasca runtuhnya rezim Mubarak pemerintahan Amerika membuka lembaran baru dengan Pihak Ikhwanul Muslimin. Kunjungan resmi delegasi Ikhwanul Muslimin disambut positif oleh Pihak gedung putih. Harian The Nation melansir pernyataan Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Tommy Vietor yang menyatakan ‘’Pertemuan dengan Ikhwanul Muslim ini dirancang untuk memperluas keterlibatan AS dengan kelompok baru dalam politik Mesir” . lebih lanjut- seperti dikutip Harian The Nation- ia menyatakan “dalam diskusi kami dengan Ikhwanul Muslimin, kami menekankan pentingnya menghormati hak-hak minoritas, keterwakilan perempuan dan keamanan kawasan yang juga menjadi perhatian kami.”

Fakta Perjanjian Camp David

Perjanjian Perdamaian Camp David ditandatangani pada tanggal 17 September 1978 di Gedung Putih yang diselenggarakan untuk ‘perdamaian’ di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter memimpin perundingan rahasia yang berlangsung selama 12 hari antara Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Perjanjian ini mendapatkan namanya dari tempat peristirahatan milik para presiden AS, Camp David, di Frederick County, Maryland.

Perjanjian ini juga melahirkan Perjanjian Damai Israel-Mesir pada tahun 1979. Perjanjian ini mengundang kontroversi. Negara-negara Arab, terutama orang Palestina, mengutuknya dan menganggap perjanjian ini sebagai pengkhianatan. Yasser Arafat menyatakan “Biarkan mereka menandatangani apa yang mereka suka. Kedamaian palsu tidak akan berlangsung.” Di sisi lain, perjanjian ini membuat Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin mendapat hadiah nobel perdamaian. Namun, Anwar Sadat menjadi tidak populer di negara-negara Arab dan negaranya sendiri. Ketidakpopulerannya terus berkembang, hingga berujung pada pembunuhan Anwar Sadat pada 6 Oktober 1981.

Mempelintir Sirah Nabawiyah Untuk Justifikasi

Mayoritas warga muslim di seluruh dunia, termasuk rakyat Mesir sendiri menolak isi perjanjian tersebut. Namun rupanya hal ini tidak mempengaruhi sikap IM terhadap isi perjanjian tersebut. Mereka akan tetap mempetahankannya dengan dalih sebagai bentuk penghormatan atas traktat perjanjian international.

Sikap ini rupanya di dukung oleh kaum pragmatis-sekulerisme, mereka mencoba membawa-bawa sirah nabawiyah untuk membenarkan apa yang di lakukan oleh Moursy tersebut dengan mengatakan “Tetap Menghormati Perjanjian Dengan Israel, Mursi Mencontoh Rasulullah Saw! [sumber link : http://suaranews.com/2377/tetap-menghormati-perjanjian-dengan-israel-morsy-mencontoh-rasulullah-saw]

Mereka membawakan kisah tentang perjanjian Hudaibiyah yakni kisah dua orang mukmin dari Makkah yakni Abu Jandal dan Abu Bashir.

Abu Jandal, Ia adalah seorang salah satu sahabat Rasulullah Saw yang terseok-seok harus berjalan melarikan diri dengan berbagai luka ditubuhnya dan tangan yang masih terikat. Ia berjalan untuk menuju Rasulullah Saw.

Sesampainya Abu Jandal bertemu Rasulullah Saw, ia pun bertemu dengan ayahnya Suhail, yang tengah akan membuat sebuah perjanjian. Perjanjian yang saat ini kita kenal perjanjian Hudaibiyah.

Dengan keadaan lelah, luka. Abu Jandal masih dianiaya oleh ayahnya sendiri (Suhail) dengan pukulan daun-daun yang rantingnya memiliki duri dipukulkan kepada wajahnya. Sangat miris, bahkan Umar bin Khaththab pun beberapa kali bertanya kepada Rasulullah Saw untuk membebaskannya dari kaum Quraisy (Ayahnya sendiri Suhail). Tetapi Rasulullah Saw berkata “Hai Abu Jandal, bersabarlah kamu dengan setulus-tulusnya karena Allah. Sesungguhnya, Allah pasti memberi penyelesaian dan jalan keluar kepadamu serta orang-orang sepertimu. Sesungguhnya, kami telah mengikat suatu perjanjian damai dengan orang-orang itu dan kami telah menyatakan janji kami kepada mereka. Tentu kami tidak boleh melanggarnya.”

Setelah itu Abu Jandal ra pun menjadi tawanan kembali oleh orang-orang Quraisy. Beberapa waktu masyarakat muslim pada waktu itu masih belum bisa melupakan peristiwa yang memilukan tersebut, peristiwa menyerahkan saudara seimannya kepada orang-orang Quraisy. Tetapi, datang lagi peristiwa yang kembali hampir sama dengan peristiwa Abu Jandal.

Seorang bernama Abu Bashir, melarikan diri dari tawanan orang-orang Quraisy dan mencoba untuk bertemu dengan Rasulullah Saw. Hingga akhirnya ketika Rasulullah menemuinya, datang juga utusan dari orang Quraisy untuk kembali menangkap Abu Bashir dan membawanya untuk menjadi tawanan orang Quraisy kembali.

Sekali lagi, dengan berat hati, Rasulullah Saw menyerahkan seorang muslim kepada orang-orang Quraisy. Hingga Abu Bashir mengatakan “ya Rasulullah, tegakah engkau mengembalikan aku kepada orang-orang musyrik yang akan menerorku mengenai agamaku?”

Lalu Rasulullah bersabda “Hai Abu Bashir, sesungguhnya kita benar-benar telah berjanji kepada kaum Quraisy itu sebagaimana kamu tahu dan tidak patut bagi kita, menurut agama kita, berlaku curang. Sesungguhnya, Allah pasti akan memberi kepadamu dan kepada orang-orang sepertimu cara penyelesaian dengan jalan keluar.”

Tetapi setelah Abu Bashir dibawah oleh utusan Quraisy, ternyata Abu Bashir membunuh utusan tersebut. Hingga Rasulullah Saw marah dan bersabda “Celaka ibunya. Dia (Abu Bashir) bisa mengobarkan peperangan andaikan didukung beberapa orang.”

Hingga akhirnya Rasulullah Saw mengusir Abu Bashir “Pergilah kamu ke mana saja yang kamu suka.”

Kisah inilah yang dijadikan dalil bagi mereka bahwa apa yang di lakukan oleh Moursy tersebut dalam rangka meniru apa yang dilakukan oleh rasulullah saw sebagaimana perjanjian hudaibiyah yang mereka samakan dengan perjanjian damai Camp David.

Namun, benarkah sikap demikian? Apakah antara perjanjian Camp David bisa disamakan dengan perjanjian Hudaibiyah.

Menyoal Perjanjian Hudaibiyah VS Perjanjian Camp David

Bagi yang benar-benar membaca sirah nabawiyah dengan seksama dan teliti, maka selain kisah di atas, kita juga tahu bahwa perjanjian Hudaibiyah itu bukanlah sebatas taktik Rasulullah saw terhadap kaum kafir quraysi untuk jangka panjang, melainkan merupakan wahyu dari Allah swt.

Kita bisa melihat bagaimana sikap sahabat-sahabat senior seperti Umar ra yangs angat marah aka nisi perjanjian tersebut, namun apa kata rasulullah saw :

Diantara Sahabat yang paling kecewa berat adalah Umar ibn khaththab Rodhiyallahu anhu.

Maka ia mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata :

“ Wahai Rasul, bukankah kita ini berada diatas kebenaran ? dan mereka diatas kebatilan ?

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab“ Ya benar, “

Umar bin Khaththab bertanya lagi :

“ Bukankah korban yang mati diantara kita masuk surga ?, dan korban diantara mereka berada di Neraka ?”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab“ Ya betul, “

Umar bin Khaththab bertanya :

“ Lalu mengapa kita merendahkan agama kita dan kembali , padahal Allah Ta’ala belum lagi membuat keputusan antara kita dan mereka ?”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab“

Wahai Ibnul Khaththab, aku ini Rasulullah ( Utusan Allah ) , aku tidak akan mendurhakaiNya . Dan Ia adalah Penolongku , Ia tidak akan menelantarkan aku .”

Umar bin Khaththab bertanya lagi :

“ Bukankah engkau telah memberitahukan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Ka’bah dan Thawaf di sana ?”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab:

“ Ya betul. Tapi apakah aku menjanjikan /mengatakan kita kesana tahun ini ?”

Umar bin Khaththab menjawab : “ Tidak “.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“ Makanya , kalau begitu engkau akan pergi ke Ka’bah dan Thawaf disana tahun depan”.

Umar masih penasaran dengan hati yang masih kesal . Kemudian ia mendatangi Abu Bakar Rodhiyallahu anhu ditempat yang berbeda dan mengajukan pertanyaan pertanyaan seperti yang diajukan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Subhanallah, ternyata Abu Bakar ditempat yang berbeda itu juga memberikan jawaban yang sama persisdengan jawaban Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Abu Bakar Rodhiyallahu anhu menambahkan :

“ Fastamsik bighorzihi hattaa tamuutu fawallahi innahu la’alaal haqqi “

“ Patuhlah kepada perintah dan larangan beliau sampai engkau meninggal dunia . Demi Allah , sesungguhnya beliau berada diatas kebenaran.”

Kemudian turun wahyu ( QS. Al fath: 1 )

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, ( QS : Al Fath 1)

Dan seterusnya dari surat Al Fath.

Umar bertanya :

“ Wahai Rasulullah , apakah itu benar-benar sebuah kemenangan ? “

“Benar” , jawab beliau.

Barulah hatinya merasa tenang. Kemudian dia baru menyadari tindakannya itu , sehingga dia amat menyesal karenanya.

Umar Berkata : “

“ Setelah itu aku terus menerus melakukan berbagai amal , bershadaqoh, berpuasa , sahalat dan berusaha membebaskan dari apa yang telah kulakukan saat itu. “ Dia berharap itu semua merupakan kebaikkan yang dapat menebus kesalahannya ( Ar Rahiqul Mahtun hal 329 )

Sejak itu pula Umar berkata mengukir sebuah kaidah :

“ Wahai manusia curigailah pendapat atas agama, Sungguh saya pernah menolak perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan pendapatku . Demi Allah saya tidak akan lagi meremehkan kebenaran “ ( Thabrani Kabir 82, Bazzar: 148, Bukhari : 3953 dari Sahl Ibn Hunaif Ibn, Abi Syaibah dari Abu Mas’ud : 37615 )

Kita memang harus mengakui bahwa ada beberapa hal “kerugian” yang kaum muslim dapat dalam perjanjian tersebut, salah satu nya tentang orang-orang muslim dari Makkah yang harus dikembalikan ke Makkah, dan itu yang menimpa kepada Abu jandal dan Abu Bashir.

Namun ada hal lain yang sebenarnya yang kita peroleh sebagai “kemenangan” yakni :

Pihak Quraisy mengakui eksistensi Daulah Islam di Madinah sebagai negara kaum Muslimin dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai pemimpinnya. Sebab sudah sekian lama pihak Quraisy tidak mau mengakui sedikit pun keberadaan orang-orang Muslim, dan bahkan mereka hendak memberantas hingga ke akar-akarnya. Mereka menunggu-nunggu babak akhir dari perjalanan orang-orang Muslim. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan, mereka mencoba memasang penghalang antara dakwah Islam dan manusia, sambil membual bahwa merekalah yang layak memegang kepemimpinan agama dan roda kehidupan di seluruh. jazirah Arab. Sekalipun hanya mengukuhkan perjanjian, namun ini sudah bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap kekuatan orang-orang Muslim, di samping orang-orang Quraisy merasa tidak sanggup lagi menghadapi kaum Muslimin.
Kaum Muslimin dapat bebas berziarah ke Madinah kapanpun mereka menghendaki, kecuali pada tahun di mana perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, sebagaimana termaktub pada klausul pertama perjanjian ini. Klausul pertama merupakan pagar pembatas bagi Quraisy, sehingga mereka tidak bisa menghalangi seseorang untuk memasuki Masjidil Haram.
Nah, memang secara politik, umat Islam diuntungkan oleh perjanjian tersebut, walaupun para sahabat tidak mampu membacanya, hanya rasulullah saw saja yang mempu memahami apa keuntungan besar yang diraih dari perjanjian tersebut, hal tersebut tidak akan terjadi kecuali memang karena adanya wahyu dari Allah swt atas perjanjian tersebut. Sehingga tatkala umar berkata : “

“ Lalu mengapa kita merendahkan agama kita dan kembali , padahal Allah Ta’ala belum lagi membuat keputusan antara kita dan mereka ?”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab“

Wahai Ibnul Khaththab, aku ini Rasulullah ( Utusan Allah ) , aku tidak akan mendurhakaiNya . Dan Ia adalah Penolongku , Ia tidak akan menelantarkan aku .”

Kalimat “aku tidak akan mendurhakaiNya” hal tersebut sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa apa yang dilakukan oleh rasulullahsaw pada perjanjian hudaibiyah tersebut bukan karena taktik semata, melainkan sudah kehendak Allah swt, sehingga rasulullah saw tidak mau durhaka kepadaNya dengan tidak melakukan perjanjian tersebut.

Adapun perjanjian Camp David, sangatlah jelas itu bukan wahyu, dan juga bukan taktik politik dengan “hidden agenda” oleh Anwar Saddat. Hal tersebut dilakukan hanyalah untuk meraih simpati dari Amerika, karena Anwar saddat juga merupakan antek Amerika, sekaligus ingin menunjukan kepada dunia bahwa kedamaian bisa tercipta antara kedua belah pihak. Yang mana memang kemudian perjanjian ini membuat Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin mendapat hadiah nobel perdamaian.

Fakta Tanah Palestina

Palestina merupakan negeri Islam yang ditaklukkan secara damai oleh Daulah Khilafah Islamiyyah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hâfidz Abu Qâsim Ibnu ‘Asâkir di dalam al-Mustaqshâ fi Fadhail al-Masjid al-Aqsha, setelah menaklukkan Damsyiq beliau kemudian mengarahkan pasukannya yang dipimpin oleh Abu Ubaidah ke daerah Iliya (Palestina) dan mengepung daerah tersebut selama beberapa hari hingga penduduk negeri tersebut meminta damai kepada kaum Muslimin dengan syarat Umar bin Khattab menjumpai mereka.

Abu Ubaidah kemudian mengirim surat untuk meminta pendapat Umar bin Khattab. Umar lalu berunding dengan sejumlah sahabat tentang hal tersebut. Utsman r.a. mengusulkan agar beliau tidak ke Iliyâ dengan maksud untuk menghinakan mereka. Sementara Ali bin Abu Thalib meminta beliau tetap ke wilayah tersebut untuk meringankan pengepungan yang dilakukan oleh kaum muslimin. Umar lantas memilih pendapat Ali dan memintanya menjadi pengganti beliau di Madinah. Setelah sampai di wilayah tersebut Umar bertemu dengan Abu Ubadah dan sejumlah pemimpin pasukan kaum muslimin seperti Khalid bin Walid dan Yazid bin Abu Sofyan. Abu Ubaidah bermaksud mencium tangan Umar atas kemenangan ini namun Umar malah bermaksud mencium kaki Abu Ubaidah. Namun masing-masing menolak untuk diberi penghormatan demikian. Umar lalu menyetujui perdamaian dengan orang-orang Nashrani (al-Bidâyah wa an-Nihâyah: V/65-66).
Adapun isi perjanjian antara Umar bin Khattab dengan Penduduk ‘Iliyâ yang dikenal dengan perjanjian ‘Umariyah atau ‘Iliyâ adalah:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini adalah apa yang diberikan oleh hamba Allah, Umar, amirul mukminin kepada penduduk Iliyâ di Ammân. Saya memberikan keamanan atas jiwa dan harta mereka, gereja-gereja mereka, salib-salib mereka, orang-orang yang sakit dan yang tidak bersalah dan seluruh agama mereka. Gereja mereka tidak boleh ditempati dan dihancurkan, tidak boleh diambil bagiannya ataupun isinya, demikian pula dengan salib-salib dan harta mereka. Mereka tidak boleh dipaksa untuk meninggalkan agama mereka. Dan seorang pun dari mereka tidak boleh dimudharatkan. Dan tidak seorangpun dari orang Yahudi boleh tinggal di Iliyâ. Penduduk Iliyâ harus membayar jizyah sebagaimana halnya dengan penduduk kota lain. Mereka harus mengeluarkan orang-orang Romawi dan Lashut. Barangsiapa yang keluar dari mereka maka jiwa dan harta mereka aman serta perniagaan dan salib-salib mereka dibiarkan. Dan barangsiapa di antara mereka yang menetap maka mereka aman. Dan mereka harus membayar jizyah sebagaimana halnya penduduk Iliyâ. Dan siapa saja dari penduduk Iliyâ yang pergi dengan hartanya ke Romawi dan dan membawa perniagaan dan salib mereka maka mereka aman hingga mereka tiba ditempat mereka. Dan penduduk al-Ardh yang berada di Iliyâ sebelum terbunuhnya Fulan maka mereka boleh menetap namun mereka wajib memberikan jizyah sebagaimana penduduk Iliyâ. Dan siapa yang mau maka mereka boleh pergi dengan orang-orang Romawi. Dan siapa saja yang mau kembali kepada kelurganya maka tidak diambil apapun dari mereka hingga mereka memanen hasil pertanian mereka. Dan apa yang ada di dalam tulisan ini merupakan janji Allah, jaminan Rasul-Nya, jaminan para Khalifah dan kaum muslimin jika mereka memberikan jizyah. (Perjanjian) ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, ‘Amru bin ‘Ash, Abdurrahman bin Auf dan Mu’awiyah bin Abu Sofyan (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk: II/307)

Bertolak dari kenyataan tersebut, tanah Palestina termasuk dalam katagori ardh al-shulhi (tanah yang diperoleh melalui perundingan damai). Sedangkan status ardh al-shulhi sesuai dengan isi perjanjian yang disepakati antara pemerintahan Islam dengan penduduk negeri yang ditaklukkan. Selama tidak bertentangan dengan syara’, kaum Muslim pun wajib menaati klausul perjanjian yang telah disepakati itu. Rasulullah saw bersabda:

Perjanjian damai itu boleh antara kaum Muslim kecuali perjanjian damai yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Di dalam kitab ‘Awn al-Ma’bûd dijelaskan bahwa kata bayna al-muslimîn memberikan makna kharaja makhraj al-ghâlib (mengikuti adat kebiasaan). Alasannya, perjanjian damai antara kaum Muslim dan kaum kafir diperbolehkan. Pada ghalibnya, yang diseru dengan hukum adalah kaum Muslim. Sebab, merekalah yang bersedia tunduk terhadapnya.

Rasulullah saw juga bersabda:

Kaum Muslim tunduk dengan syarat-syarat mereka (HR al-Bukhari, Abu Dawud, dan al-Tirmidzi).

Berkaitan dengan tanah Palestina, terdapat klausul yang jelas mengenai status Yahudi. Di situ termaktub: Dan tidak seorangpun dari orang Yahudi boleh tinggal di Iliyâ.

Ketentuan ini berlaku hingga hari kiamat. Berdasarkan klausul tersebut, kaum Yahudi tidak boleh tinggal di Palestina. Terlebih dengan cara merampas dari pemiliknya, mengusir penduduknya, dan mendirikan negara yang berkuasa di atasnya.

Dukungan yang diberikan oleh penguasa-penguasa negeri Islam eksistensi negara Israel dan dukungan berdirinya negara Palestina jelas merupakan tindakan yang dzalim sekaligus merupakan pengkhiatan terhadap kaum muslimin. Termasuk mereka-mereka yang tetap mempertahankan perjanjian Camp David tersebut. Karena perbuatan tersebut sama saja mereka tanpa malu meridhai eksistensi negara yang berdiri di atas tanah yang dirampas dari kaum muslim. Sikap ini sekaligus menunjukkan bahwa tidak lain adalah agen-agen Barat (’umalâ) yang terus mendukung berbagai strategi negara-negara penjajah untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Padahal Allah Swt telah mengingatkan:

Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada orang yang tidak memerangi kalian dan tidak mengusir kalaian dari neger- kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil. Namun Allah melarang kalian untuk membantu orang-orang yang telah memerangi kalian, mengeluarkan kalian dari negeri kalian dan berupaya untuk mengeluarkan kalian. Barangsiapa yang menolong mereka mereka adalah orang-orang yang dzalim.” (QS al-Mumtahanah: 8-9)

KESIMPULAN

Segala bentuk perjanjian damai dengan Israel haram hukumnya dalam pandangan Islam.
Mereka menyamakan apa yang dilakukan oleh Moursy terhadap persoalan perjanjian Camp David dengan apa yang dilakukan oleh rasulullah saw pada perjanjian Hudaibiyah adalah bentuk penafsiran sirah nabawiyah yang keliru. Karena apa yang dilakukan oleh Anwar Saddat bukanlah wahyu sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw pada perjanjian Hudaibiyah, kedua, tidak ada maslahat yang didapatkan oleh kaum muslimin secara keseluruhan atas perjanjian Camp David tersebut, bahkan malah semakin menyengsarakan kaum muslim khususnya yang berada di wilayah Palestina, dimana kita terus melihat pembunuhan secara sistemik terus dilakukan oleh Zionist Israel terhadap warga Palestina.
Mereka tidak memahami secara mendalam apa yang sebenaranya terjadi di palestina, karena yang terjadi bukan hanya masalah penjajahan Israel atas Palestina secara politik, namun jauh dari itu, mereka telah tinggal dan hidup disebuah wilayah dimana wilayah atau tanah tersebut merupakan milik kaum muslimin, dan haram hukumnya di tinggali oleh yahudi sebagaimana perjanjian yang di buat oleh Khalifah Umar ra dengan penduduk ‘Illiya.
Mereka-mereka yang tetap mempertahankan perjanjian Camp David tersebut, padahal mereka secara kekuasaan bisa merubah atau membatalkan isi perjanjian tersebut, namun tidak di lakukan, itu semakin menunjukan bahwa mereka tidak lain adalah agen-agen Barat (’umalâ) yang terus mendukung berbagai strategi negara-negara penjajah untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Wallahu A’lam bishowab.

Foto: Apakah DR Muhammad Mursy Akan Mencontoh Rasulullah saw?

Oleh: Adi Victoria

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mesir menyatakan bahwa Muhammad Mursi, dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) terpilih sebagai presiden baru negara itu. Dia dinyatakan menang dengan perolehan suara 51,7 persen atau 13,4 juta suara. 

Sementara penantang Mursi, Ahmed Shafiq, hanya kebagian 12,3 juta suara. Menurut KPU Mesir, ada sejumlah 800.000 surat suara yang dinyatakan tidak sah. Bahkan, kedua kubu sama-sama mencantumkan keberatan mereka ke KPU terkait proses pemilihan umum itu. 

Pengumuman yang dibacakan oleh Ketua KPU Mesir, Farouq Sultan, hari Minggu (24/6), di Kairo, segera disambut gembira oleh para pendukung Mursi. Puji syukur dan sorak-sorai membahana di Lapangan Tahrir, Kairo. Kondisi Mesir pun terkendali pasca-diumumkannya Mursi sebagai Presiden Mesir, menggantikan Hosni Mubarak. 

Mursi adalah tokoh IM pertama yang menduduki jabatan tertinggi di negara itu. Dia dilahirkan di kawasan Delta Sungai Nil, tepatnya di Provinsi Sharqiya. Dia adalah sarjana teknik mesir dari Universitas Kairo tahun 1975. Dia meraih gelar doktor dari University of Souhtern California, Amerika Serikat. Di perguruan tinggi itu, pada tahun 1985, dia sempat menjabat sebagai asisten guru besar.

Banyak harapan dari masyarakat dunia international khususnya di beberapa negeri Islam bahwa dengan terpilihnya Mursi sebagai pemimpin baru Mesir, maka perjanjian camp David akan di hapuskan. Bahkan di dalam negeri pun, rakyat Mesir menuntut agar perjanjian itu di hapuskan.

"Mayoritas warga Mesir menentang segala bentuk hubungan dengan Israel dan mereka berpikir bahwa Israel adalah rezim penjajah," kata Kamel Wazni, analis politik kepada Press TV.

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Muhammad Mursi, kandidat dari Ikhwanul Muslimin keluar sebagai pemenang dalam pilpres putaran kedua di negara itu.

Pakar politik tersebut menambahkan, warga Mesir ingin Palestina memiliki hak legal mereka untuk memiliki tanahnya dan saya pikir Ikhwanul Muslimin, jika ingin mendapat legitimasi dari bangsa Mesir, mereka harus menghormati tuntutan rakyat negara ini.

Tekanan opini publik terhadap presiden baru Mesir untuk mempertimbangkan kembali kesepakatan damai dengan Israel dan pembatalan perjanjian Camp David terus meningkat.

Lebih Lanjut Wazni mengatakan, "Saya tidak tahu berapa lama mereka akan enghormati perjanjian Camp David. Jika mereka terus bertahan dengan perjanjian itu,maka mereka akan kehilangan kredibilitasnya."

Dia dulu pernah menjadi anggota kelompok anti-Israel, Komisi Menentang Zionisme. Tetapi, dia banyak mengabdi pada IM. Melalui IM inilah, dia kemudian dicalonkan untuk ikut pada pemilihan anggota parlemen tahun 2000.

Bahkan pihak Israel pun merasa khawatir bahwa kemenangan Moursy tersebut akan menjadi momok bagi mereka, yakni dengan dibatalkannya perjanjian camp David tersebut.

Memang sejauh ini tidak terdapat pernyataan resmi dari Ikhwanul Muslimin tentang pembatalan perjanjian camp David. Namun Mohammad Mursi menyatakan akan menghormati perjanjian Camp David walaupun terjadi kekhwatiran dari pihak Israel tentang pembatalan perjanjian tersebut oleh Ikhwanul Muslimin. Uzi Dayan Mantan Wakil  Kepala Staf Gabungan Militer Rezim Zionis Israel menyatakan kekhawatirannya terkait transformasi di Mesir terutama tentang kelanjutan perjanjian Camp David.

Kekhawatiran Israel cukup beralasan terhadap pembatalan perjanjian camp David,  Israel negara yang sedang di kepung dan di repotkan oleh berbagai kekuatan-Hamas, Hizbullah, Suriah dan Iran- dengan terjadinya pembatalan perjanjian Camp David Israel akan semakin memperburuk situasi keamanan dalam negri Israel

Dalam sebuah kesempatan, Mursi berkata :"Kami membawa pesan damai kepada dunia. Kami menegaskan komitmen Mesir pada traktat dan kesepakatan Internasional. Kami juga mengingatkan bahwa, Mesir adalah pendukung Palestina dan Rakyat Suriah. Tetapi kami tidak ingin mengirimkan revolusi ke Suriah atau bahkan mengintervensi persoalan dalam negeri mereka".

Ini berarti bahwa Negara Mesir yang di pimpin oleh DR Muhammad Mursi tetap akan mempertahankan perjanjian tersebut.

Pasca kemenangan Ikhwanul Muslimin di pemilihan umum legislative timbul berbagai macam ketakutan dan kegelisahan dari berbagai pihak. Ketakutan dan kegelisahan  terkait berbagai anggapan bahwa Negara  Mesir akan berubah haluan menjadi negara radikal, anti pluralisme, pendukung teroris versi Amerika-sekutu dan Israel- dan membatalkan perjanjian Camp David jika kekuasaan berada dalam cengkraman Ikhwanul Muslimin. Jauh sebelumnya  atau sebelum mencapai kemenangan dalam Pemilu Legislatif, terdapat beberapa media barat menuduh Ikhwanul Muslimin  memiliki misi menghalalkan penggunaan kekerasaan dalam mencapai tujuan. Bahkan hingga menuduh Ikhwanul muslimin memilki korelasi dengan gerakan teroris. Namun kenyataannya tidak terdapat satu negara pun yang menempatkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris hal ini berbeda dengan Al Qaeda, Hamas dan Hizbullah yang ditempatkan oleh beberapa negara kedalam kategori organisasi teroris.

Ikhwanul Muslimin mencoba menetralisir tudingan-tudingan miring mengenai eksistensi mereka dengan mengadakan kunjungan resmi ke Gedung Putih.  Namun sebelumnya menurut Marina Ottaway  seorang pakar Timur Tengah menilai dahulu Amerika membuat sebuah kebijakan untuk tidak berhubungan dengan pihak Ikhwanul Muslimin karena larangan pemerintah Mesir, pasca runtuhnya rezim Mubarak pemerintahan Amerika membuka lembaran baru dengan Pihak Ikhwanul Muslimin. Kunjungan resmi delegasi Ikhwanul Muslimin disambut positif  oleh Pihak gedung putih. Harian The Nation melansir pernyataan Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Tommy Vietor  yang menyatakan ‘’Pertemuan dengan Ikhwanul Muslim ini dirancang untuk memperluas keterlibatan AS dengan kelompok baru dalam politik Mesir" . lebih lanjut- seperti dikutip Harian The Nation- ia menyatakan “dalam diskusi kami dengan Ikhwanul Muslimin, kami menekankan pentingnya menghormati hak-hak minoritas, keterwakilan perempuan dan keamanan kawasan yang juga menjadi perhatian kami.”

Fakta Perjanjian Camp David

Perjanjian Perdamaian Camp David ditandatangani pada tanggal 17 September 1978 di Gedung Putih yang diselenggarakan untuk 'perdamaian' di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter memimpin perundingan rahasia yang berlangsung selama 12 hari antara Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Perjanjian ini mendapatkan namanya dari tempat peristirahatan milik para presiden AS, Camp David, di Frederick County, Maryland.

Perjanjian ini juga melahirkan Perjanjian Damai Israel-Mesir pada tahun 1979. Perjanjian ini mengundang kontroversi. Negara-negara Arab, terutama orang Palestina, mengutuknya dan menganggap perjanjian ini sebagai pengkhianatan. Yasser Arafat menyatakan "Biarkan mereka menandatangani apa yang mereka suka. Kedamaian palsu tidak akan berlangsung." Di sisi lain, perjanjian ini membuat Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin mendapat hadiah nobel perdamaian. Namun, Anwar Sadat menjadi tidak populer di negara-negara Arab dan negaranya sendiri. Ketidakpopulerannya terus berkembang, hingga berujung pada pembunuhan Anwar Sadat pada 6 Oktober 1981.

Mempelintir Sirah Nabawiyah Untuk Justifikasi

Mayoritas warga muslim di seluruh dunia, termasuk rakyat Mesir sendiri menolak isi perjanjian tersebut. Namun rupanya hal ini tidak mempengaruhi sikap IM terhadap isi perjanjian tersebut. Mereka akan tetap mempetahankannya dengan dalih sebagai bentuk penghormatan atas traktat perjanjian international.

Sikap ini rupanya di dukung oleh kaum pragmatis-sekulerisme, mereka mencoba membawa-bawa sirah nabawiyah untuk membenarkan apa yang di lakukan oleh Moursy tersebut dengan mengatakan “Tetap Menghormati Perjanjian Dengan Israel, Mursi Mencontoh Rasulullah Saw! [sumber link : http://suaranews.com/2377/tetap-menghormati-perjanjian-dengan-israel-morsy-mencontoh-rasulullah-saw]

Mereka membawakan kisah tentang perjanjian Hudaibiyah yakni kisah dua orang mukmin dari Makkah yakni Abu Jandal dan Abu Bashir.

Abu Jandal, Ia adalah seorang salah satu sahabat Rasulullah Saw yang terseok-seok harus berjalan melarikan diri dengan berbagai luka ditubuhnya dan tangan yang masih terikat. Ia berjalan untuk menuju Rasulullah Saw.

Sesampainya Abu Jandal bertemu Rasulullah Saw, ia pun bertemu dengan ayahnya Suhail, yang tengah akan membuat sebuah perjanjian. Perjanjian yang saat ini kita kenal perjanjian Hudaibiyah.

Dengan keadaan lelah, luka. Abu Jandal masih dianiaya oleh ayahnya sendiri (Suhail) dengan pukulan daun-daun yang rantingnya memiliki duri dipukulkan kepada wajahnya. Sangat miris, bahkan Umar bin Khaththab pun beberapa kali bertanya kepada Rasulullah Saw untuk membebaskannya dari kaum Quraisy (Ayahnya sendiri Suhail). Tetapi Rasulullah Saw berkata "Hai Abu Jandal, bersabarlah kamu dengan setulus-tulusnya karena Allah. Sesungguhnya, Allah pasti memberi penyelesaian dan jalan keluar kepadamu serta orang-orang sepertimu. Sesungguhnya, kami telah mengikat suatu perjanjian damai dengan orang-orang itu dan kami telah menyatakan janji kami kepada mereka. Tentu kami tidak boleh melanggarnya."

Setelah itu Abu Jandal ra pun menjadi tawanan kembali oleh orang-orang Quraisy. Beberapa waktu masyarakat muslim pada waktu itu masih belum bisa melupakan peristiwa yang memilukan tersebut, peristiwa menyerahkan saudara seimannya kepada orang-orang Quraisy. Tetapi, datang lagi peristiwa yang kembali hampir sama dengan peristiwa Abu Jandal.

Seorang bernama Abu Bashir, melarikan diri dari tawanan orang-orang Quraisy dan mencoba untuk bertemu dengan Rasulullah Saw. Hingga akhirnya ketika Rasulullah menemuinya, datang juga utusan dari orang Quraisy untuk kembali menangkap Abu Bashir dan membawanya untuk menjadi tawanan orang Quraisy kembali.

Sekali lagi, dengan berat hati, Rasulullah Saw menyerahkan seorang muslim kepada orang-orang Quraisy. Hingga Abu Bashir mengatakan "ya Rasulullah, tegakah engkau mengembalikan aku kepada orang-orang musyrik yang akan menerorku mengenai agamaku?"

Lalu Rasulullah bersabda "Hai Abu Bashir, sesungguhnya kita benar-benar telah berjanji kepada kaum Quraisy itu sebagaimana kamu tahu dan tidak patut bagi kita, menurut agama kita, berlaku curang. Sesungguhnya, Allah pasti akan memberi kepadamu dan kepada orang-orang sepertimu cara penyelesaian dengan jalan keluar."

Tetapi setelah Abu Bashir dibawah oleh utusan Quraisy, ternyata Abu Bashir membunuh utusan tersebut. Hingga Rasulullah Saw marah dan bersabda "Celaka ibunya. Dia (Abu Bashir) bisa mengobarkan peperangan andaikan didukung beberapa orang."

Hingga akhirnya Rasulullah Saw mengusir Abu Bashir "Pergilah kamu ke mana saja yang kamu suka."

Kisah inilah yang dijadikan dalil bagi mereka bahwa apa yang di lakukan oleh Moursy tersebut dalam rangka meniru apa yang dilakukan oleh rasulullah saw sebagaimana perjanjian hudaibiyah yang mereka samakan dengan perjanjian damai Camp David.

Namun, benarkah sikap demikian? Apakah antara perjanjian Camp David bisa disamakan dengan perjanjian Hudaibiyah.

Menyoal Perjanjian Hudaibiyah VS Perjanjian Camp David

Bagi yang benar-benar membaca sirah nabawiyah dengan seksama dan teliti, maka selain kisah di atas, kita juga tahu bahwa perjanjian Hudaibiyah itu bukanlah sebatas taktik Rasulullah saw terhadap kaum kafir quraysi untuk jangka panjang, melainkan merupakan wahyu dari Allah swt.

Kita bisa melihat bagaimana sikap sahabat-sahabat senior seperti Umar ra yangs angat marah aka nisi perjanjian tersebut, namun apa kata rasulullah saw : 

Diantara Sahabat yang paling kecewa berat adalah Umar ibn khaththab Rodhiyallahu anhu.

Maka ia mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata :

“  Wahai Rasul, bukankah kita ini berada diatas kebenaran  ? dan mereka diatas kebatilan ?

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  menjawab“ Ya benar, “

Umar bin Khaththab bertanya lagi :

“ Bukankah korban yang mati diantara kita masuk surga ?, dan korban diantara mereka berada di Neraka ?”

Rasulullah  Shallallahu alaihi wa sallam  menjawab“ Ya betul, “

Umar bin Khaththab bertanya :

“ Lalu mengapa kita merendahkan agama kita dan kembali , padahal Allah Ta’ala belum lagi membuat keputusan antara kita dan mereka ?”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  menjawab“

Wahai Ibnul Khaththab, aku ini Rasulullah ( Utusan Allah ) , aku tidak akan mendurhakaiNya . Dan Ia adalah Penolongku , Ia tidak akan menelantarkan aku  .”

Umar bin Khaththab bertanya lagi :

“ Bukankah engkau telah memberitahukan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Ka’bah dan Thawaf di sana ?”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  menjawab:

“ Ya betul. Tapi apakah aku menjanjikan /mengatakan kita kesana tahun ini ?”

Umar bin Khaththab menjawab : “ Tidak “.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam   bersabda :

“ Makanya , kalau begitu engkau akan pergi ke Ka’bah dan Thawaf disana tahun depan”.

Umar masih penasaran dengan hati yang masih kesal . Kemudian ia mendatangi  Abu Bakar Rodhiyallahu anhu  ditempat yang berbeda dan mengajukan pertanyaan pertanyaan seperti yang diajukan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Subhanallah, ternyata Abu Bakar ditempat yang berbeda itu juga memberikan jawaban yang sama persisdengan jawaban Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Abu Bakar Rodhiyallahu anhu menambahkan :

“ Fastamsik bighorzihi hattaa tamuutu fawallahi innahu la’alaal haqqi “

“ Patuhlah kepada perintah dan larangan beliau sampai engkau meninggal dunia . Demi Allah , sesungguhnya beliau berada diatas kebenaran.”

Kemudian turun wahyu ( QS. Al fath: 1 )

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, ( QS : Al Fath 1)

Dan seterusnya dari surat Al Fath.

Umar bertanya :

“ Wahai Rasulullah , apakah itu benar-benar sebuah kemenangan  ? “

“Benar” ,  jawab beliau.

Barulah hatinya merasa tenang. Kemudian dia baru menyadari tindakannya itu , sehingga dia amat menyesal karenanya.

Umar Berkata : “

“ Setelah itu aku terus menerus melakukan berbagai amal , bershadaqoh, berpuasa , sahalat dan berusaha membebaskan dari apa yang telah kulakukan saat itu. “ Dia berharap itu semua merupakan kebaikkan yang dapat menebus kesalahannya ( Ar Rahiqul Mahtun hal 329 )

Sejak itu pula Umar berkata mengukir sebuah kaidah :

“ Wahai manusia curigailah pendapat atas agama, Sungguh saya pernah menolak perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan pendapatku . Demi Allah saya tidak akan lagi meremehkan kebenaran “ ( Thabrani Kabir 82, Bazzar: 148, Bukhari : 3953 dari Sahl Ibn Hunaif Ibn,  Abi Syaibah dari Abu Mas’ud : 37615 )

Kita memang harus mengakui bahwa ada beberapa hal “kerugian” yang kaum muslim dapat dalam perjanjian tersebut, salah satu nya tentang orang-orang muslim dari Makkah yang harus dikembalikan ke Makkah, dan itu yang menimpa kepada Abu jandal dan Abu Bashir.

Namun ada hal lain yang sebenarnya yang kita peroleh sebagai “kemenangan” yakni :

Pihak Quraisy mengakui eksistensi Daulah Islam di Madinah sebagai negara kaum Muslimin dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai pemimpinnya. Sebab sudah sekian lama pihak Quraisy tidak mau mengakui sedikit pun keberadaan orang-orang Muslim, dan bahkan mereka hendak memberantas hingga ke akar-akarnya. Mereka menunggu-nunggu babak akhir dari perjalanan orang-orang Muslim. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan, mereka mencoba memasang penghalang antara dakwah Islam dan manusia, sambil membual bahwa merekalah yang layak memegang kepemimpinan agama dan roda kehidupan di seluruh. jazirah Arab. Sekalipun hanya mengukuhkan perjanjian, namun ini sudah bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap kekuatan orang-orang Muslim, di samping orang-orang Quraisy merasa tidak sanggup lagi menghadapi kaum Muslimin.
Kaum Muslimin dapat bebas berziarah ke Madinah kapanpun mereka menghendaki, kecuali pada tahun di mana perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, sebagaimana termaktub pada klausul pertama perjanjian ini. Klausul pertama merupakan pagar pembatas bagi Quraisy, sehingga mereka tidak bisa menghalangi seseorang untuk memasuki Masjidil Haram.
Nah, memang secara politik, umat Islam diuntungkan oleh perjanjian tersebut, walaupun para sahabat tidak mampu membacanya, hanya rasulullah saw saja yang mempu memahami apa keuntungan besar yang diraih dari perjanjian tersebut, hal tersebut tidak akan terjadi kecuali memang karena adanya wahyu dari Allah swt atas perjanjian tersebut. Sehingga tatkala umar berkata : “

“ Lalu mengapa kita merendahkan agama kita dan kembali , padahal Allah Ta’ala belum lagi membuat keputusan antara kita dan mereka ?”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  menjawab“

Wahai Ibnul Khaththab, aku ini Rasulullah ( Utusan Allah ) , aku tidak akan mendurhakaiNya . Dan Ia adalah Penolongku , Ia tidak akan menelantarkan aku  .”

Kalimat “aku tidak akan mendurhakaiNya” hal tersebut sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa apa yang dilakukan oleh rasulullahsaw pada perjanjian hudaibiyah tersebut bukan karena taktik semata, melainkan sudah kehendak Allah swt, sehingga rasulullah saw tidak mau durhaka kepadaNya dengan tidak melakukan perjanjian tersebut.

Adapun perjanjian Camp David, sangatlah jelas itu bukan wahyu, dan juga bukan taktik politik dengan “hidden agenda” oleh Anwar Saddat. Hal tersebut dilakukan hanyalah untuk meraih simpati dari Amerika, karena Anwar saddat juga merupakan antek Amerika, sekaligus ingin menunjukan kepada dunia bahwa kedamaian bisa tercipta antara kedua belah pihak. Yang mana memang kemudian  perjanjian ini membuat Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin mendapat hadiah nobel perdamaian.

Fakta Tanah Palestina

Palestina merupakan negeri Islam yang ditaklukkan secara damai oleh Daulah Khilafah Islamiyyah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hâfidz Abu Qâsim Ibnu ‘Asâkir di dalam al-Mustaqshâ fi Fadhail al-Masjid al-Aqsha, setelah menaklukkan Damsyiq beliau kemudian mengarahkan pasukannya yang dipimpin oleh Abu Ubaidah ke daerah Iliya (Palestina) dan mengepung daerah tersebut selama beberapa hari hingga penduduk negeri tersebut meminta damai kepada kaum Muslimin dengan syarat Umar bin Khattab menjumpai mereka.

Abu Ubaidah kemudian mengirim surat untuk meminta pendapat Umar bin Khattab. Umar lalu berunding dengan sejumlah sahabat tentang hal tersebut. Utsman r.a. mengusulkan agar beliau tidak ke Iliyâ dengan maksud untuk menghinakan mereka. Sementara Ali bin Abu Thalib meminta beliau tetap ke wilayah tersebut untuk meringankan pengepungan yang dilakukan oleh kaum muslimin. Umar lantas memilih pendapat Ali dan memintanya menjadi pengganti beliau di Madinah. Setelah sampai di wilayah tersebut Umar bertemu dengan Abu Ubadah dan sejumlah pemimpin pasukan kaum muslimin seperti Khalid bin Walid dan Yazid bin Abu Sofyan. Abu Ubaidah bermaksud mencium tangan Umar atas kemenangan ini namun Umar malah bermaksud mencium kaki Abu Ubaidah. Namun masing-masing menolak untuk diberi penghormatan demikian. Umar lalu menyetujui perdamaian dengan orang-orang Nashrani (al-Bidâyah wa an-Nihâyah: V/65-66).
Adapun isi perjanjian antara Umar bin Khattab dengan Penduduk ‘Iliyâ yang dikenal dengan perjanjian ‘Umariyah atau ‘Iliyâ adalah:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini adalah apa yang diberikan oleh hamba Allah, Umar, amirul mukminin kepada penduduk Iliyâ di Ammân. Saya memberikan keamanan atas jiwa dan harta mereka, gereja-gereja mereka, salib-salib mereka, orang-orang yang sakit dan yang tidak bersalah dan seluruh agama mereka. Gereja mereka tidak boleh ditempati dan dihancurkan, tidak boleh diambil bagiannya ataupun isinya, demikian pula dengan salib-salib dan harta mereka. Mereka tidak boleh dipaksa untuk meninggalkan agama mereka. Dan seorang pun dari mereka tidak boleh dimudharatkan. Dan tidak seorangpun dari orang Yahudi boleh tinggal di Iliyâ. Penduduk Iliyâ harus membayar jizyah sebagaimana halnya dengan penduduk kota lain. Mereka harus mengeluarkan orang-orang Romawi dan Lashut. Barangsiapa yang keluar dari mereka maka jiwa dan harta mereka aman serta perniagaan dan salib-salib mereka dibiarkan. Dan barangsiapa di antara mereka yang menetap maka mereka aman. Dan mereka harus membayar jizyah sebagaimana halnya penduduk Iliyâ. Dan siapa saja dari penduduk Iliyâ yang pergi dengan hartanya ke Romawi dan dan membawa perniagaan dan salib mereka maka mereka aman hingga mereka tiba ditempat mereka. Dan penduduk al-Ardh yang berada di Iliyâ sebelum terbunuhnya Fulan maka mereka boleh menetap namun mereka wajib memberikan jizyah sebagaimana penduduk Iliyâ. Dan siapa yang mau maka mereka boleh pergi dengan orang-orang Romawi. Dan siapa saja yang mau kembali kepada kelurganya maka tidak diambil apapun dari mereka hingga mereka memanen hasil pertanian mereka. Dan apa yang ada di dalam tulisan ini merupakan janji Allah, jaminan Rasul-Nya, jaminan para Khalifah dan kaum muslimin jika mereka memberikan jizyah. (Perjanjian) ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, ‘Amru bin ‘Ash, Abdurrahman bin Auf dan Mu’awiyah bin Abu Sofyan (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk: II/307)

Bertolak dari kenyataan tersebut, tanah Palestina termasuk dalam katagori ardh al-shulhi (tanah yang diperoleh melalui perundingan damai). Sedangkan status ardh al-shulhi sesuai dengan isi perjanjian yang disepakati antara pemerintahan Islam dengan penduduk negeri yang ditaklukkan. Selama tidak bertentangan dengan syara’, kaum Muslim pun wajib menaati klausul perjanjian yang telah disepakati itu. Rasulullah saw bersabda:

Perjanjian damai itu boleh antara kaum Muslim kecuali perjanjian damai yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Di dalam kitab ‘Awn al-Ma’bûd dijelaskan bahwa kata bayna al-muslimîn memberikan makna kharaja makhraj al-ghâlib (mengikuti adat kebiasaan). Alasannya, perjanjian damai antara kaum Muslim dan kaum kafir diperbolehkan. Pada ghalibnya, yang diseru dengan hukum adalah kaum Muslim. Sebab, merekalah yang bersedia tunduk terhadapnya.

Rasulullah saw juga bersabda:

Kaum Muslim tunduk dengan syarat-syarat mereka (HR al-Bukhari, Abu Dawud, dan al-Tirmidzi).

Berkaitan dengan tanah Palestina, terdapat klausul yang jelas mengenai status Yahudi. Di situ termaktub: Dan tidak seorangpun dari orang Yahudi boleh tinggal di Iliyâ.

Ketentuan ini berlaku hingga hari kiamat. Berdasarkan klausul tersebut, kaum Yahudi tidak boleh tinggal di Palestina. Terlebih dengan cara merampas dari pemiliknya, mengusir penduduknya, dan mendirikan negara yang berkuasa di atasnya.

Dukungan yang diberikan oleh penguasa-penguasa negeri Islam eksistensi negara Israel dan dukungan berdirinya negara Palestina jelas merupakan tindakan yang dzalim sekaligus merupakan pengkhiatan terhadap kaum muslimin. Termasuk mereka-mereka yang tetap mempertahankan perjanjian Camp David tersebut. Karena perbuatan tersebut sama saja mereka tanpa malu meridhai eksistensi negara yang berdiri di atas tanah yang dirampas dari kaum muslim. Sikap ini sekaligus menunjukkan bahwa tidak lain adalah agen-agen Barat (’umalâ) yang terus mendukung berbagai strategi negara-negara penjajah untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Padahal Allah Swt telah mengingatkan:

Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada orang yang tidak memerangi kalian dan tidak mengusir kalaian dari neger- kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil. Namun Allah melarang kalian untuk membantu orang-orang yang telah memerangi kalian, mengeluarkan kalian dari negeri kalian dan berupaya untuk mengeluarkan kalian. Barangsiapa yang menolong mereka mereka adalah orang-orang yang dzalim.” (QS al-Mumtahanah: 8-9)

KESIMPULAN

Segala bentuk perjanjian damai dengan Israel haram hukumnya dalam pandangan Islam.
Mereka menyamakan apa yang dilakukan oleh Moursy terhadap persoalan perjanjian Camp David dengan apa yang dilakukan oleh rasulullah saw pada perjanjian Hudaibiyah adalah bentuk penafsiran sirah nabawiyah yang keliru. Karena apa yang dilakukan oleh Anwar Saddat bukanlah wahyu sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw pada perjanjian Hudaibiyah, kedua, tidak ada maslahat yang didapatkan oleh kaum muslimin secara keseluruhan atas perjanjian Camp David tersebut, bahkan malah semakin menyengsarakan kaum muslim khususnya yang berada di wilayah Palestina, dimana kita terus melihat pembunuhan secara sistemik terus dilakukan oleh Zionist Israel terhadap warga Palestina.
Mereka tidak memahami secara mendalam apa yang sebenaranya terjadi di palestina, karena yang terjadi bukan hanya masalah penjajahan Israel atas Palestina secara politik, namun jauh dari itu, mereka telah tinggal dan hidup disebuah wilayah dimana wilayah atau tanah tersebut merupakan milik kaum muslimin, dan haram hukumnya di tinggali oleh yahudi sebagaimana perjanjian yang di buat oleh Khalifah Umar ra dengan penduduk ‘Illiya.
Mereka-mereka yang tetap mempertahankan perjanjian Camp David tersebut, padahal mereka secara kekuasaan bisa merubah atau membatalkan isi perjanjian tersebut, namun tidak di lakukan, itu semakin menunjukan bahwa mereka tidak lain adalah agen-agen Barat (’umalâ) yang terus mendukung berbagai strategi negara-negara penjajah untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Wallahu A’lam bishowab.

http://www.facebook.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: