Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Bismillaah…

Hidup ini bagaikan bulan Ramadhan, awalnya ramadhan seperti terasa nampak masih lama, sampai ke tengah bulan tak terasa lalai cepat berlalu, dan akhirnya bulan segera cepat meninggalkan kita. Begitu juga dengan hidup, awalnya kita menyangka hidup ini akan lama, sudah masuk usia pertengahan begitu banyak waktu yang terlewatkan, dan diakhir usia ternyata dunia segera meninggalkan kita.

Hidup ini tak selamanya, bahkan hanya sementara. Dan sadar atau tidak sadar ajal selalu mengejar kita.
Ya begitulah, sebegitu rahasianya malaikat Isro’il mencabut nyawa manusia. Namun sayangnya ajal itu tak ada satu pun insan manusia yang mengetahuinya. Sungguh, tak ada yang tau, tak ada yang bisa menawar, tak ada yang bisa memajukan hidup dan tak ada yang bisa mengundurkan ajal. Tapi yang jelas kematian adalah suatu keniscayaan yang pasti datangnya. Percaya atau tidak, ya pasti datangnya.

Beberapa waktu yang lalu ketika ada seorang sahabat yang melontarkan satu pertanyaan “Siapkah kita ketika kematian datang menjemput?”. Tertegun spontan menundukkan pandangan, memikirkan untuk merenungi sejenak, memang hidup ini tak akan lama bahkan sangat sebentar.

Sebagian orang ada yang menjadikan kematian adalah sesuatu hal yang ditakuti. Karena merasa “belum siap”. Tapi hal ini berbanding terbalik, bagi kita yang dilahirkan sebagai umat muslim, pastilah bergembira menjawab akan kesiapan kematian kita. Mengapa? Karena kematian sesungguhnya adalah sebagai sarana jembatan penghubung. Jika kelak tempat kembali itu hanya ada dua, Surga dan Neraka? dan kita hendak kemana, pastinya ingin ke Surga. Maka kematian adalah sarana penghubung jembatan menuju ke Surga. Dan pastinya kematian menjadi sambutan special tersendiri bagi kita umat muslim.

Merenungi kembali, memang begitu banyak kesalahan dan kealpaan yang dilakukan oleh manusia, terlebih saat ini manusia sudah terlanjur hidup dalam kungkungan sistem demokrasi-sekuler dimana segala kebebasan dijunjung tinggi, segala yang berbau taat dengan Allah dieliminasi. Untuk itu semestinya kita bisa berfikir dan bangkit dengan mengambil Islam sebagai satu-satunya pandangan kehidupan (ideologi). Agar sungguh kemantapan dan kesiapan akan ajal yang datang disambut dengan spesial betul-betul “SIAP”.

Sebegitu banyaknya dosa manusia, yakinlah Allah Maha Menerima Taubat dan Maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin bertaubat kepada-Nya. Di bulan ramadhan yang penuh berkah ini, selayaknya sisa waktu yang Allah berikan untuk kehidupan kita di dunia di isi dengan turut serta dalam perjuangan penegakkan kembali hukum Islam dalam naungan Khilafah. Agar kehidupan sistem yang membuat kita “TAK SIAP MATI” menjadi “SIAP MATI”.

Maka kapanpun waktunya, dan dimanapun tempatnya mari kita azzamkan akhir hidup kita berakhir dengan khusnul khotimah dan mati syahid dijalan-Nya dan satu lagi
“HARI INI HARUS SIAP MATI”

*Komunitas Muslimah Rindu Syariah & Khilafah*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: