Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Selingkuh Mengancam Keluarga Muslim

Setiap dua jam tiga pasang suami istri bercerai gara-gara selingkuh.

Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, Yusman Arifin, tertangkap basah bersama pasangan selingkuhannya di sebuah wisma di Jalan Mardani, Jakarta Pusat. Sang istri, Naila Ibrahim sendiri yang memergokinya sembari membawa rombongan wartawan.

Sementara itu, Polres Tulungagung menetapkan anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Agus Sukarno Putro (29) dari Fraksi PKNU dan pasangan selingkuhnya, Apriliana (30) yang juga bendahara sekwan sebagai tersangka. Mereka dijerat pasal 284 KUHP tentang perzinaan.

Berita seperti itu banyak menghiasi media massa, bukan satu-dua kasus. Bukan hanya menyangkut kalangan artis, tapi juga kaum elitis. Itupun yang ketahuan saja, yang tak terendus jauh lebih banyak.

Tak heran bila di Indonesia, detektif swasta banyak yang disewa untuk menyelidiki perselingkuhan, khususnya yang dilakukan pejabat. “Memang, klien kami kebanyakan mengadukan soal perselingkuhan,” kata CJ Ryon, pimpinan dan pendiri Pancaindera.com, sebuah lembaga penyelidik swasta spesialis perselingkuhan.

Picu Perceraian
Ya, praktik selingkuh telah begitu meluas. Bahkan, kini menjadi ancaman serius bagi institusi keluarga bahagia. Sejumlah hasil penelitian dalam dan luar negeri membuktikan bahwa dari sekian banyak penyebab perceraian, selingkuh menjadi penyebab utama.

Menurut data Ditjen Pembinaan Peradilan Agama (PPA) Mahkamah Agung, persentase perselingkuhan perempuan lebih kecil dari pria. Sedangkan Amir Sjarifoedin Tjunti Agus, dalam bukunya “Wanita-Wanita Selingkuh; Rumput Tetangga Terlihat lebih Hijau”, melakukan penelitian terhadap 100 “wanita peselingkuh” usia 24-50 tahun, berdasarkan strata ekonomi, sosial, dan sebagainya, -dengan latar belakang pendidikan (SLTA sampai S-2).

Terungkap, banyak wanita lebih memilih selingkuh daripada memperbaiki hubungan dengan suami. Bahkan, mereka berselingkuh tidak saja dengan PIL (pria idaman lain), tapi juga dengan adik ipar, anak kos, siswa, mahasiswa, “brondong”, lesbian, bahkan gigolo. Menjijikkan!

Hasil perselingkuhan ini, mendorong pergerakan stastistik perceraian dari tahun ke tahun. Direktorat Jendral Pembinaan Peradilan Agama mencatat, kini selingkuh menjadi virus keluarga nomor empat. Tahun 2005 lalu, misalnya, ada 13.779 kasus perceraian yang bisa dikategorikan akibat selingkuh; 9.071 karena gangguan orang ketiga, dan 4.708 akibat cemburu. Persentasenya mencapai 9,16 persen dari 150.395 kasus perceraian tahun 2005 atau 13.779 kasus.

Alhasil, dari 10 keluarga bercerai, 1 di antaranya karena selingkuh. Atau, rata-rata, setiap 2 jam ada tiga pasang suami istri bercerai gara-gara selingkuh. Perceraian karena selingkuh itu jauh melampaui perceraian akibat poligami tidak sehat yang hanya 879 kasus atau 0,58 persen dari total perceraian tahun 2005. Perceraian gara-gara selingkuh juga 10 kali lipat dibanding perceraian karena penganiayaan yang hanya 916 kasus atau 0,6 persen.
Dan, data perselingkuhan itu diprediksi akan terus meroket. “Karena banyak tokoh yang melakukannya,” kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan untuk Keadilan (LBH APIK), Ratna Batara Munti.

“Selingkuh adalah fenomena tidak sehat bagi bangsa ini. Selingkuh itu zina,” tandas Nasaruddin Umar, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Depag. Sayang, istilah selingkuh sendiri kerap diakronimkan ‘selingan indah keluarga utuh’, hingga banyak yang penasaran mencobanya. Padahal mereka Muslim dan Muslimah. Ironi!

Selingkuh Haram
Lafal selingkuh berasal dari bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur, sembunyi-sembunyi, atau menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya. Dalam makna itu ada pula kandungan makna perbuatan serong.

Namun, lafal selingkuh di Indonesia muncul secara nasional dalam bahasa Indonesia dengan makna khusus “hubungan gelap” atau tingkah serong orang yang sudah bersuami atau beristri dengan pasangan lain.

Sehingga begitu bahasa Jawa selingkuh ini mencuat jadi bahasa Indonesia tahun 1995-an, langsung punya makna lain (tersendiri) yaitu hubungan gelap ataupun perzinaan orang yang sudah bersuami atau beristri. Ini satu perpindahan makna bahasa serta budaya bahkan ajaran.

Sebab menurut budaya Barat (bahkan hukum Barat), yang namanya zina itu hanya kalau sudah bersuami atau beristri, sedangkan jika masih bujangan atau suka sama suka, dianggap tidak. Itu sama sekali berlainan dengan Islam, karena ada zina muhshan (yang sudah pernah berhubungan badan karena nikah yang sah, hukumannya menurut Islam, dirajam/dilempari batu sampai mati) dan zina ghairu muhshan (belum pernah nikah, hukumannya dicambuk 100 kali dan dibuang setahun bagi lelaki, dan didera 100 kali bagi perempuan).

Sampai sekarang, lafal selingkuh lebih dekat kepada makna hubungan gelap antara orang yang sudah bersuami atau beristeri dengan pasangan lain. Kalau pacaran dianggap bukan selingkuh, tetapi kalau diam-diam ada pacar lain lagi, baru dianggap selingkuh. Ini semua makna-makna yang berkembang, tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan syariat Islam karena Islam tidak memperbolehkan pacaran.

Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), selingkuh adalah: (1). Suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong. (2) Suka menggelapkan uang; korup. (3) Suka menyeleweng.

Dilihat dari definisi itu, lafal selingkuh sekarang sudah mengalami perubahan makna, menjadi makna khusus, hubungan gelap bagi orang bersuami atau beristeri. Dan perbuatan itu dianggapnya lumrah. Padahal diharamkan menurut Islam

Pernikahan Ditinggalkan
Rusaknya moral kaum elite (al-mutrafin) adalah menyangkut selingkuh secara utuh, yaitu makna secara keseluruhan. Baik selingkuh yang maknanya korupsi, tidak jujur, serong maupun zina. Diadili saja tidak, apalagi dirajam, yaitu dibunuh dengan cara dilempari batu.

Kalau yang cerai gara-gara selingkuh saja tiap dua jam ada, lantas kalau mereka diadili, berarti tiap dua jam ada sepasang selingkuh yang bisa divonis mati dengan dirajam. Karena yang diseret ke pangadilan hanya yang korupsi, bukan yang berzina, maka suatu ketika lembaga ulama mengeluarkan semacam fatwa atau imbauan hanya menyangkut pemberantasan korupsi, bukan untuk mengadili yang berzina.

Kenapa separah ini? Karena, ada kekuatan-kekuatan jahat yang bersekongkol atau berkomplot yang merusak umat Islam Indonesia ini secara sistematis.
Antara lain melalui majalah porno (Playboy misalnya), film porno, situs porno, dll. Sedangkan aturan yang ‘berbau’ Islam terus diobrak-abrik. Seperti UU Perkawinan, tentang kebolehan poligami, diikuti dengan syarat yang ketat. Sebaliknya, bagi yang ingin zina, sarananya telah tersedia, sedang sistemnya tidak mempersoalkannya. Lebih dari itu justru perzinaan menjadi salah satu lahan pemasukan bagi pemerintah daerah atau orang-orang yang berbisnis maksiat.

Bahkan ketika kerusakan akibat perzinaan ini terjadi, seperti menjalarnya penyakit AIDS, pemerintah dan media menolong mereka dengan berbagai program indahnya. Seperti kondomisasi, kesehatan reproduksi, antidiskriminasi ODHA (orang dengan HIV/Aids), dll. Dianjurkanlah kondom, disebar gratis di lokasi maksiat. Merebaklan seks bebas.

Dan ketika seks bebas sudah menjadi budaya, ikatan suci pernikahan pun ditinggalkan. Ya, saat angka perceraian terus meningkat dari tahun ke tahun, pernikahan justru terus mengalami penurunan. Lembaga pernikahan tidak lagi menarik.

Jumlah pernikahan tahun 2005 lalu, bahkan hanya sedikit meningkat dibanding 1950-an, di saat jumlah penduduk baru 50 juta orang. “Jumlah pernikahan tahun 1950-an lalu sudah mencapai 1,4 juta, lho,” kata peneliti ahli Litbang Departemen Agama, Moh Zahid (Republika, 7/1/07).

Kalau sudah begitu, malapetaka kehancuran keluarga, runtuhnya institusi pernikahan tinggal menunggu waktu. Semai generasi mujahid dalam keluarga pun terancam gagal. Ini jelas harus dihentikan!

Ingat, akronim selingkuh sebagai `selingan indah keluarga utuh’, tidak pernah berlaku, karena sejatinya selingkuh adalah `selingan indah keluarga runtuh’. Untuk menghentikan itu, tegakkan hukum zina! Tegakkan Syariat Islam melalui Khilafah Islamiyah![] kholda naajiyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: