Catatan seorang ibu, isteri, dan pengemban mabda-Nya

Janji Allah

Janji Allah

Kita semua tahu bahwa Allah SWT berfirman,
“… Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji-Nya.” (QS. Ar Ra’du: 31)

Ayat di atas, dan ayat-ayat lain yang senada menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Menepati janji. Sekali-kali Allah tidak akan mengingkari atau menyalahi janji-Nya. Pengingkaran terhadap ayat ini, maka orang tersebut akan jatuh kafir, termasuk meragukannya. Sebab, ayat ini dan juga ayat lainnya yang senada telah diriwayatkan secara mutawatir, mustahil untuk salah. Kalaupun ada, mungkin orang tersebut adalah orang yang akalnya tidak bekerja dengan baik, sebagaimana orang gila atau orang yang sedang stress.

Allah SWT juga telah berjanji kepada orang-orang Islam bahwa Dia akan menjadikan kaum muslimin berkuasa sebagaimana dulu utusan-utusan Allah berkuasa,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Dalam tafsir Al Ahkam, Imam Al Qurthubi, menulis bahwa ayat ini merupakan janji Allah SWT kepada Rasul SAW bahwasanya Allah SWT akan mengutus pemimpin (khalifah) untuk manusia di bumi sebagaimana ayat 30 Surah Al Baqarah. Tujuannya adalah untuk membereskan urusan pemerintahan dan agar manusia patuh terhadap peribadatan. Juga agar manusia aman dari rasa takut serta menghukum mereka yang bersalah.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan: “Ini adalah janji Allah Swt kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai para penguasa di bumi, yakni para pemimpin dan para wali (penguasa daerah), menjadikan negeri mereka makmur, dan menjadikan umat manusia tunduk kepada mereka. Allah juga akan menggantikan ketakutan mereka dengan rasa aman. Hal itu telah Allah buktikan (segala pujian bagi-Nya) dengan dibebaskannya Makkah, Khaibar, Bahrain, seluruh jazirah Arab dan seluruh wilayah Yaman; dipungutnya jizyah dari kalangan Majusi Hijir dan sebagian wilayah Syam; Hiraklius, penguasa Romawi, memberi Nabi saw hadiah; begitu juga Muqauqis, penguasa Mesir, Iskandariyah; penguasa Oman; dan Najasy, penguasa Habsyah, yang kemudian (daerah-daerah terasebut) dikuasai olkeh para sahabat Rasulullah saw yang mulia.”

Imam Asy Syaukani berkata dalam kitabnya Fathul Qadir, “Inilah janji dari Allah swt. kepada orang yang beriman kepada-Nya dan melaksanakan amal salih tentang kekhilafahan bagi mereka di muka bumi sebagaimana Allah pernah mengangkat sebagai penguasa orang-orang sebelum mereka. Inilah janji yang berlaku umum bagi seluruh generasi umat. Ada yang menyatakan bahwa janji ini hanya berlaku bagi sahabat saja. Sesungguhnya pendapat ini tidak memiliki dasar sama sekali. Alasannya, iman dan amal salih tidak hanya khusus ada para sahabat saja, namun bisa saja dipenuhi oleh setiap generasi dari umat ini.”

Asy Syaikh Abdurrahman Nasir As Sa’di rahimahullah berkata tentang surat An Nur ayat 55 di atas: “Janji yang diberikan Allah Ta’ala dalam ayat ini akan terus berlaku sampai hari kiamat. Selama mereka menegakkan keimanan dan amal shalih maka pasti akan diperoleh apa yang dapat dikuasai oleh orang-orang kafir dan munafik, maka itu disebabkan mereka menyia-nyiakan
iman dan amal shalih yang diperintahkan kepada mereka.”

Sehingga, ketika seorang muslim mengingkari bahwa kaum muslim suatu saat berkuasa, maka dia dia telah mengingkari ayat ini. Maka kufurlah ia.

Kemudian, berkuasanya kaum muslim adalah dalam bentuk negara khilafah, bukan negara republik, demokrasi, kerajaan, atau yang lainnya. Mengapa negara khilafah? Sebab ini merupakan kabar dari Rasulullah saw.,
“Masa kenabian akan berlangsung di tengah-tengah kalian sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu datang masa ke-Khilafahan yang mengikuti manhaj kenabian selama masa yang diikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu datang masa kekuasaan yang zhalim (mulkan ‘adhdhan) selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu datang masa kekuasan diktator bengis (mulkan jabariyyan) selam masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Setelah itu akan datang (kembali) masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian Rasulullah terdiam. (HR. Ahmad)

Para ulama menyatakan:
Yang dimaksud dengan mulkan ‘adhdhan adalah kekuasaan para Khalifah sesudah Khulafaur Rasyidin, yaitu masa kekhilafahan Umayyah, Abbasiyyah, hingga Turki Utsmani, dimana di dalamnya terdapat keburukan-keburukan atau penyimpangan-penyimpangan dalam penerapan syariat Islam, tetapi tetap menjadikan Islam sebagai asas dan sistem hukum/pemerintahannya.

Sedangkan yang dimaksud dengan mulkan jabariyyan adalah masa kekuasaan kaum Muslim setelah runtuhnya sistem kekhilafahan Utsmaniyah. Yaitu masa yang dipenuhi oleh para diktator (para penguasa muslim) yang tidak mau menjalankan sistem pemerintahan (dan hukum) Islam; yang melalaikan dan memakan hak-hak kaum Muslim; yang melayani kepentingan negara-negara kafir; yang dikelilingi oleh orang-orang fasik dan munafik; yang tidak memperjuangkan kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Masa ini adalah masa dimana penguasa suka memaksakan kehendaknya sesuai dengan hawa nafsunya. Masa mulkan jabariyyan adalah masa dimana kita hidup sekarang ini, yaitu masa yang paling buruk yang pernah ditemui oleh kaum Muslim sepanjang sejarah peradaban Islam.

Kemudian setelah itu, Rasulullah saw. mengabarkan akan datang masa kembalinya khilafah Islamiyah dengan manhaj kenabian. Ini bukan sekedar janji, tetapi ini adalah kabar dari Rasulullah saw.

Demikianlah. Bahwa kaum muslimin akan kembali berkuasa. Ini adalah janji Allah. Dan berkuasanya kuam muslimin, ditegaskan oleh Rasulullah saw. yaitu dengan tegaknya kembali negara Khilafah Islamiyah.

Kita semua telah sadar, benar bahwa kaum muslimin berkuasa merupakan janji Allah. Jadi, sudah bisa dipastikan bahwa kelak khilafah akan berdiri. Lantas, apa yang harus dilakukan jika Allah sudah memastikan? Apakah kita harus memperjuangkannya ataukah kita diam saja tanpa perlu memperjuangkannya dan menyibukkan diri dalam amal-amal fardhiyah?

Benar, bahwa Allah telah berjanji kepada kaum muslimin bahwa tegaknya negara khilafah adalah janji Allah. Tetapi hendaknya kaum muslim kemudian lantas berdiam diri atas hal tersebut. Mengapa? Sebab, walaupun tegaknya kembali negara khilafah merupakan janji Allah, tetapi Allah dan rasul-Nya juga memerintahkan kepada kaum muslim untuk melakukan amal-amal yang mengarah kepada tegaknya negara khilafah. Ini artinya, untuk memenuhi janji Allah tersebut, maka kaum muslimin wajib melakukan amal-amal yang berkaitan dengan tegaknya khilafah.

Allah swt. berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta orang-orang yang menjadi pemimpin di antara kalian.” (QS. An Nisa’: 59)

Ayat ini memerintahkan ketaatan kepada Allah, dan Rasul serta pemimpin, dimana hukum ketaatan tersebut adalah wajib. Maka, baik Allah maupun Rasul, keberadaannya sama-sama pasti, karena itu hukum menaatinya adalah pasti; tidak berubah menjadi tidak wajib hanya karena ketiadaan objek yang ditaati. Sebaliknya, jika diperintahkan untuk menaati, maka hukum mewujudkan objek yang ditaati menjadi pasti (wajib). Sebab, tidak pernah ada hukum wajib diperintahkan atas sesuatu yang keberadaannya tidak ada.

Ada juga hadis Nabi Muhammad saw. tentang baiat, yaitu dari Abdullah bin Umar,
Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, maka kelak di hari akhir ia akan bertemu dengan Allah swt tanpa memiliki hujjah. Barangsiapa mata, sedangkan di lehernya tidak ada bai’at maka, matinya seperti mati jahiliyyah. (HR. Muslim)

Nabi Muhammad saw. telah mewajibkan kaum muslim agar di atas pundak mereka terdapat baiat. Beliau mensifati orang yang meninggal sedangkan di pundaknya tidak ada baiat seperti mati jahiliyah. Baiat itu hanya diberikan kepada khalifah, bukan yang lain.

Rasululah telah mewajibkan agar di atas pundak mereka terdapat baiat kepada khalifah, namun beliau tidak mewajibkan setiap muslim untuk melakukan baiat. Karena yang wajib hanyalah adanya baiat di atas pundak setiap muslim, yaitu adanya seorang khalifah. Sehingga dengan adanya seorang khalifah itu maka baiat bisa diwujudkan. Adanya khalifahlah yang esensinya yang menentukan ada dan tidaknya baiat di atas pundak setiap muslim. Baik mereka membaiatnya secara langsung atau pun tidak. Karena itu hadis di atas adalah dalil wajibnya menegakkan khilafah bukan dalil wajibnya baiat. Karena yang dikecam oleh Rasulullah adalah tidak adanya baiat di atas pundak kaum muslimin, hingga mereka mati, dan bukan mengecam tidak adanya baiat itu sendiri.

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah berkata: “Wajib menjadikan kepemimpinan (khilafah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Taqarrub kepada Allah di dalam kepemimpinan (kekhalifahan) itu diraih dengan menaati Allah dan rasul-Nya, adalah termasuk dalam taqarub yang paling utama.” Hal ini terdapat dalam kitab Majmu Fatawa, sebuah kitab beliau yang sangat terkenal.

Dengan demikian, berjuang menegakkan negara khilafah merupakan kewajiban yang harus dipenuhi.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mau memperjuangkan tegaknya khilafah dan hanya menyibukkan diri beribadah melakukan amal fardhiyah? Dengan alasan: Allah sudah berjanji, maka Allah pasti akan menegakkannya. Jadi negara khilafah tidak perlu diperjuangkan.

Allah berfirman,
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thahaa: 124)

Apalagi jika hal ini diperparah dengan perbuatannya yang ikut serta mengokohkan sekulerisme yang diinginkan oleh orang kafir. Mereka bahkan membela orang-orang kafir dan menjadikan mereka pihak-pihak yang menjadi rujukan. Hal ini akan sangat membuat Allah murka.

Berkaitan dengan hal tersebut, ada baiknya kita menyimak firman Allah berikut,
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran: 28)

Kemudian, orang yang selalu menyibukkan diri dengan amal fardhiyah dan mengabaikan berbagai dalil tentang kewajiban memperjuangkan syariat Islam, maka kepada mereka Allah berfirman,
“…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah: 85)

Jadi, Allah tidak hanya berjanji kepada orang-orang mukmin. Tetapi Allah juga berjanji kepada orang-orang yang menyepelekan ayat-ayat-Nya. Dan kembali ke awal,
“… Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji-Nya.” (QS. Ar Ra’du: 31)

Wallahu a’lam…

Oleh : Agus Trisa
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: